RADAR SURABAYA - Kotak hitam (black box) pesawat ATR 42-500 dengan nomor registrasi PK-THT akhirnya ditemukan dalam kondisi utuh di Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, Rabu (21/1).
Black box tersebut masih berada di dalam potongan ekor pesawat saat tim SAR gabungan menemukannya.
Asisten Operasi Kodam XIV Hasanuddin, Kolonel Inf Dody Triyo Hadi, menjelaskan bahwa black box ditemukan setelah dua hari pencarian intensif.
“Alhamdulillah, bentuknya utuh. Kemarin kita sudah mengidentifikasi secara visual namun belum bisa menuju lokasi karena kontur medan yang menantang,” ujarnya di Posko Operasi SAR Desa Tompobulu, Kecamatan Balocci, Pangkep.
Dody menambahkan, black box masih dalam posisi terpasang di potongan ekor pesawat ketika ditemukan.
“Untuk black box-nya ada di dalam bagian potongan ekor. Kita sudah lepas dari dudukannya dan sedang proses turun menuju posko,” jelasnya.
Tim khusus yang terdiri dari TNI, Basarnas, dan tim reaksi cepat Tonasa diturunkan untuk mengevakuasi potongan ekor pesawat.
Dody menyebut black box akan segera diserahkan ke Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).
“Nanti kita serahkan ke kawan-kawan di KNKT untuk memastikan bentuk fisik dan memverifikasi data yang ada,” imbuhnya.
Selain menemukan black box, tim SAR gabungan juga berhasil menemukan dua jenazah dari total 10 korban.
Salah satunya adalah pramugari Florencia Lolita Wibisono, sementara satu korban pria belum teridentifikasi.
Asrendam XIV Hasanuddin, Kolonel Inf Abi Kusnianto, mengatakan pencarian delapan korban lainnya masih berlangsung. “Harapan kami sebelum tujuh hari operasi selesai, seluruh korban bisa ditemukan,” ujarnya.
Tim SAR juga mengamankan sejumlah serpihan pesawat, termasuk sayap, badan pesawat, kursi, dan dokumen milik korban. Temuan ini menjadi acuan tambahan untuk memperkuat operasi pencarian.
Sementara itu, tim SAR masih melanjutkan pencarian delapan korban yang belum ditemukan, dengan harapan seluruh proses evakuasi dapat selesai lebih cepat dari target operasi tujuh hari. (net/nur)
Editor : Nurista Purnamasari