RADAR SURABAYA – Para nelayan yang melihat kondisi laut pesisir timur Surabaya sudah rusak akhirnya memilih untuk berganti profesi. Bahkan, akhirnya menjual perahu mereka sebagai modal.
Misalnya, Anwar, mantan nelayan asal Kelurahan Sukolilo Baru yang mengaku berhenti melaut karena sampah di dasar laut menguap dan komoditas laut sulit dicari. Dia menyebut pencari kerang asal Pasuruan mencapai 50 perahu dan mengaduk dasar laut.
Akibatnya bau tidak sedap menguap dan sampah di dasar laut mengambang di permukaan. ”Ikan tidak mau hidup di tempat seperti itu,” kata Anwar. Bukan hanya ikan, tapi udang, dan hasil laut lain kian surut jumlahnya.
Ditambah lagi kondisi cuaca yang paling mengancam nelayan adalah petir di tengah laut. Akhirnya Anwar berubah profesi, kadang menjadi sopir odong-odong, kadang kuli angkut pakan kuda, dan seadanya profesi dia geluti. Perahu satu-satunya dia dijual dengan harga Rp 19 juta.
”Kerja darat seperti kuli angkut lebih menjanjikan daripada cari ikan di kondisi laut yang tidak karuan,” jelas dia.
Sulhan, warga Kelurahan Sukolilo Baru, juga pensiun sebagai nelayan karena usia yang tak lagi muda. Dia menyebutkan beberapa temannya juga berhenti jadi nelayan dan mengandalkan uang pemberian anaknya.
”Di sini kalau tidak dapat BLT ya dapat beras dari pemerintah. Khususnya yang lansia dan janda,” ucapnya.
Amin, mantan nelayan Kenjeran asal Kelurahan Sukolilo, turut beralih profesi jadi satpam. Dua perahunya dijual untuk modal berbagai usaha, misalnya untuk beli odong-odong dan memenuhi kebutuhan hidup. ”Tidak bisa lagi mengandalkan laut, jenis ikan apa pun susah dicari," jelasnya. (ida/jun/vga)