RADAR SURABAYA - Insiden pengeroyokan terhadap seorang guru SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim), Jambi, oleh sejumlah siswanya saat kegiatan belajar berlangsung memicu kehebohan publik.
Peristiwa yang menimpa Agus Saputra itu terekam dalam video dan viral di media sosial, bahkan memperlihatkan sang guru mengacungkan celurit untuk membubarkan siswa.
Agus menjelaskan peristiwa terjadi pada Selasa (13/1) pagi. Saat berjalan di depan kelas, ia mendengar salah satu siswanya menegurnya dengan kata-kata tidak pantas.
“Kejadiannya berawal peneguran siswa di kelas di saat belajar ada guru, dia (siswa) menegur dengan tidak hormat dan tidak sopan kepada saya, dengan meneriakkan kata yang tidak pantas,” kata Agus, Rabu (14/1).
Agus kemudian masuk ke kelas dan meminta siswa mengaku siapa yang melontarkan ucapan tersebut.
Salah satu siswa mengaku, namun justru menantang dirinya. Agus mengakui sempat menampar siswa itu sebagai bentuk teguran.
“Saya masuk ke kelas memanggil siapa yang meneriakkan saya seperti itu. Dia langsung menantang saya, akhir saya refleks menampar muka dia,” ujarnya dikutip dari detikcom.
Menurut Agus, tindakannya dimaksudkan sebagai pendidikan moral. Namun, situasi memanas hingga dimediasi guru lain.
Di sisi lain, sejumlah siswa menuding Agus menghina murid dengan perkataan “miskin”. Agus membantah tudingan itu dan menegaskan ucapannya hanya sebagai motivasi.
“Saya mengatakan, kalau kita kurang mampu, kalau bisa jangan bertingkah macam-macam. Itu secara motivasi pembicaraan, bukan mengejek,” ungkapnya.
Mediasi tidak menemukan titik temu. Agus memberi pilihan kepada siswa untuk membuat petisi jika tidak ingin dirinya mengajar lagi, atau meminta mereka berubah.
Namun, siswa justru menuntut Agus meminta maaf. Ketika berjalan menuju ruang guru bersama komite, Agus dikeroyok sejumlah siswa.
“Setelah mediasi itu, saya diajak komite ke kantor. Di saat itulah terjadi pengeroyokan terhadap saya,” ujarnya.
Keributan berlanjut hingga sore hari. Agus mengaku dilempari batu oleh siswa yang tidak terima.
Ia sempat mengacungkan celurit sebagaimana terlihat dalam video viral, namun menegaskan itu hanya gertakan agar siswa bubar.
“Kebetulan kami itu SMK pertanian, memang cangkul dan celurit tersedia di kantor. Kenapa saya memakai itu? Agar mereka bubar, tidak ada niat lain saya untuk itu. Tapi mereka malah melempari saya dengan batu,” jelasnya.
Usai insiden pengeroyokan, Agus melaporkan kasus ini ke Dinas Pendidikan Provinsi Jambi. Ia berharap pihak dinas dapat menengahi dan menyelesaikan persoalan tersebut. Dari kejadian itu, Agus mengalami memar di badan dan pipi. (dtk/nur)
Editor : Nurista Purnamasari