Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Piala Dunia 2026 Selebriti Sidoarjo Surabaya Surabayapedia Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Dosen FK Unair Surabaya Sebut Makan Mi Instan Malam Hari dan Kurang Tidur, Pemicu Utama Obesitas Remaja

Rahmat Sudrajat • Jumat, 9 Januari 2026 | 12:55 WIB

 

Menikmati mi instan memang menyenangkan tapi ada dampak negatif jika berlebihan. (IST)
Menikmati mi instan memang menyenangkan tapi ada dampak negatif jika berlebihan. (IST)

RADAR SURABAYA - Obesitas merupakan masalah kesehatan yang umum ditemukan di masyarakat, termasuk juga menyerang kelompok remaja. Kondisi ini dapat menjadi bahaya tersendiri karena berpotensi menyebabkan munculnya penyakit lain seperti diabetes, kadar kolesterol tinggi, dan tekanan darah tinggi.

 Tanpa disadari, banyak faktor yang dapat memicu obesitas pada remaja, salah satunya adalah kurangnya waktu tidur. Dosen Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (Unair) Dr Nur Aisiyah Widjaja dr Sp A(K), mengungkapkan bahwa kebiasaan jam tidur yang tidak tepat dapat meningkatkan risiko obesitas. Oleh karena itu perlu regulasi jam tidur yang tepat, maksimal di jam 9 malam yang mana hormon melatonin yang mengatur regulasi tidur akan meningkat perlahan dari jam 8.

 Baca Juga: Begini Penjelasan BMKG Terkait Puting Beliung di Bandara Juanda Sidoarjo, Kecepatan Angin Bisa Hancurkan Bangunan Semipermanen

"Apabila tidur melebihi jam 9, maka hormon melatonin akan digantikan dengan hormon leptin yang dapat memberikan rasa lapar dan keinginan untuk sekedar ngemil atau makan meningkat,” jelasnya, Jumat (9/1).

 Kebiasaan tidur larut malam biasanya juga dibarengi dengan kegiatan makan cemilan yang kurang baik, terutama jika dilakukan di malam hari. Umumnya banyak remaja yang memilih mi instan terkadang ditambah telur atau gorengan sebagai cemilan.

 “Makan mi instan di malam hari tentunya tidak direkomendasikan karena jumlah kalorinya yang tinggi, apalagi jika ditambah dengan telur yang mengandung protein dan juga lemak. Tambahan tersebut juga akan menambah asupan kalori yang masuk pada tubuh, terlebih saat malam hari tubuh tidak terlalu aktif bergerak sehingga berisiko besar munculnya obesitas,” ucap Aisiyah.

 Selain itu, kurangnya waktu tidur juga dapat dipengaruhi oleh stres. Saat tubuh mengalami stres, akan melepaskan hormon kortisol yang dapat mengganggu pelepasan melatonin yang mengatur siklus tidur. Oleh karena itu, penting untuk menjaga kadar stres tubuh, tidak hanya fokus pada pola makan.

 Baca Juga: Bursa Transfer: Liverpool Siapkan Rp845 Miliar untuk Bintang Barcelona, Penerus Mohamed Salah Terungkap!

“Usahakan tidur di jam 9 malam dan makan terakhir di jam 7 serta pengerjaan tugas tidak semalam hari. Perhatikan durasi tidur karena dapat memicu terjadinya obesitas yang berdampak Sindrom Metabolik (risiko diabetes, penyakit jantung koroner dan penyakit yang berhubungan dengan non communicable disease/NCD),” pungkasnya. (*)

 

Editor : Lambertus Hurek
#kurang tidur #obesitas #fk unair #hormon melatonin #mi instan #diabetes