RADAR SURABAYA — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur mencatat sepanjang tahun 2025 wilayah Jatim masih didominasi bencana hidrometeorologi. Mulai banjir, angin kencang, hingga tanah longsor yang dipicu cuaca ekstrem.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Jawa Timur Gatot Soebroto menjelaskan, peningkatan frekuensi dan intensitas bencana hidrometeorologi tersebut tak lepas dari pengaruh dinamika cuaca global dan regional. Salah satunya keberadaan Siklon Tropis Bakung serta bibit Siklon 935 yang terdeteksi di perairan selatan Pulau Jawa pada Desember lalu.
“Keberadaan siklon dan bibit siklon itu memicu peningkatan curah hujan disertai angin kencang di berbagai wilayah Jawa Timur,” ujar Gatot.
Berdasarkan data BPBD Jatim, sepanjang 2025 tercatat ratusan kejadian bencana. Bencana yang paling dominan adalah banjir sebanyak 149 kejadian, disusul angin kencang 147 kejadian. Selain itu terdapat 21 kejadian tanah longsor, 12 kebakaran lahan, dan 6 angin puting beliung.
BPBD juga mencatat 4 kejadian banjir disertai tanah longsor, 4 kebakaran hutan, serta 8 kejadian bencana lainnya yang meliputi gempa bumi, gerakan tanah, banjir rob, erupsi gunung api, dan kejadian kebencanaan lain.
Dari rangkaian bencana tersebut, dampak yang ditimbulkan cukup signifikan. Tercatat 108 orang meninggal dunia, 3 orang dinyatakan hilang, dan 165 orang mengalami luka-luka. Selain itu, sebanyak 4.530 unit rumah mengalami kerusakan, dengan total 48.314 kepala keluarga (KK) terdampak.
Gatot menegaskan, data tersebut menjadi peringatan penting bagi seluruh daerah untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan mitigasi bencana, terutama menghadapi potensi cuaca ekstrem yang masih berlanjut.
“Penguatan kesiapsiagaan masyarakat dan pemerintah daerah menjadi kunci untuk menekan risiko dan dampak bencana ke depan,” tegasnya. (mus)
Editor : Lambertus Hurek