RADAR SURABAYA — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat jumlah korban meninggal dunia akibat rangkaian bencana hidrometeorologi yang melanda sejumlah wilayah di Pulau Sumatera telah mencapai 1.177 orang hingga 4 Januari 2026.
Angka tersebut terus diperbarui seiring proses pendataan di lapangan yang masih berlangsung.
Kepala Pusat Data dan Informasi BNPB, Abdul Muhari, mengatakan jumlah korban meninggal mengalami peningkatan dari rekapitulasi sebelumnya yang tercatat 1.167 jiwa per 3 Januari 2026 pukul 16.00 WIB.
“Hari ini bertambah 10 korban jiwa sehingga total korban meninggal dunia mencapai 1.177 orang,” ujar Abdul Muhari dalam konferensi pers di Jakarta, Minggu (4/1).
Korban Meninggal Tersebar di Tiga Provinsi
BNPB merinci tambahan korban meninggal tersebut berasal dari tiga provinsi, yakni:
Aceh Utara: 3 jiwa
Tapanuli Selatan: 5 jiwa
Sumatera Barat: 2 jiwa
Selain korban meninggal, proses pencarian korban yang diduga hilang masih terus dilakukan oleh tim SAR gabungan.
“Saat ini masih terdapat 148 orang yang masuk dalam daftar pencarian. Hari ini terjadi pengurangan 17 nama setelah dilakukan verifikasi oleh pemerintah desa, kecamatan, dan keluarga korban,” jelas Abdul.
Jumlah Pengungsi Capai 242 Ribu Jiwa
Dampak bencana hidrometeorologi di Sumatera juga menyebabkan ratusan ribu warga harus mengungsi. BNPB mencatat jumlah pengungsi saat ini mencapai 242.174 jiwa yang tersebar di berbagai lokasi pengungsian.
Para pengungsi tersebut terdampak oleh banjir, longsor, serta cuaca ekstrem yang melanda kawasan Sumatera sejak akhir Desember 2025.
Status Tanggap Darurat di Sejumlah Daerah
Sejumlah pemerintah daerah terdampak memutuskan untuk memperpanjang status tanggap darurat.
Di Provinsi Aceh, terdapat 10 daerah yang memperpanjang status tanggap darurat, sementara 8 daerah lainnya telah memasuki fase transisi darurat.
Sementara itu, di Sumatera Utara, sebanyak 14 daerah kini berada dalam status transisi darurat. Dua daerah telah mengakhiri masa tanggap darurat dan tidak lagi memperpanjang status tersebut.
“Saat ini, di Sumatera Utara sudah tidak ada kabupaten/kota yang berstatus tanggap darurat. Seluruh wilayah berada dalam fase transisi darurat,” ujar Abdul.
Kabupaten Agam Masih Tanggap Darurat
Di Sumatera Barat, hanya Kabupaten Agam yang masih memberlakukan status tanggap darurat. Hal ini disebabkan masih terjadinya longsor susulan dalam beberapa hari terakhir.
“Masih terdeteksi rekahan tanah yang berpotensi memicu longsor susulan apabila terjadi hujan dengan intensitas tinggi dan durasi panjang,” ungkap Abdul.
BNPB bersama pemerintah daerah terus melakukan langkah mitigasi, pemantauan intensif, serta penguatan sistem peringatan dini guna meminimalkan risiko bencana lanjutan.
Mitigasi dan Penanganan Terus Diperkuat
BNPB memastikan seluruh unsur pemerintah pusat dan daerah tetap siaga dalam penanganan dampak bencana, mulai dari penyelamatan korban, pemenuhan kebutuhan pengungsi, hingga pemulihan infrastruktur dan lingkungan.
“Upaya mitigasi terus kami tingkatkan agar potensi bencana susulan, khususnya di Kabupaten Agam, dapat diminimalkan,” tegas Abdul.