RADAR SURABAYA - Tanggal 28 Desember 2014 menjadi salah satu hari paling kelam dalam sejarah penerbangan Indonesia. Pesawat AirAsia QZ8501 dengan rute Surabaya–Singapura jatuh di Laut Jawa, menewaskan seluruh 162 orang di dalamnya.
Peristiwa ini tidak hanya meninggalkan luka mendalam bagi keluarga korban, tetapi juga menjadi titik balik penting dalam evaluasi keselamatan penerbangan nasional.
Peristiwa tersebut juga menjadi tragedi memilukan bagi keluarga korban dan orang-orang terdekatnya. Mereka harus kehilangan, ayah, ibu, anak, suami, istri, saudara, dan teman dalam tragedi yang tak pernah dibayangkan.
Pesawat Airbus A320-200 lepas landas dari Bandara Juanda Surabaya pukul 05.36 WIB. Sekitar pukul 06.12, pilot melakukan kontak terakhir dengan Air Traffic Control (ATC) untuk meminta izin mengubah jalur penerbangan akibat cuaca buruk. Namun, permintaan tersebut tidak langsung disetujui.
Pada pukul 06.18, pesawat hilang dari radar. Lokasi jatuhnya pesawat kemudian ditemukan di perairan Selat Karimata, Laut Jawa, antara Pulau Belitung dan Kalimantan. Seluruh penumpang dan awak kabin, terdiri dari 155 penumpang dan 7 kru, dinyatakan meninggal dunia.
Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) bersama tim internasional melakukan investigasi panjang.
Hasilnya menyebutkan pesawat mengalami stall (kehilangan daya angkat) akibat kesalahan teknis dan respons pilot yang tidak sesuai prosedur.
Cuaca buruk dengan awan cumulonimbus menjadi faktor pemicu, namun penyelidikan menegaskan bahwa kombinasi kerusakan sistem dan kesalahan manusia memperparah situasi.
“Pesawat kehilangan kendali setelah sistem autopilot dinonaktifkan. Pilot tidak berhasil mengembalikan pesawat ke posisi normal,” ungkap laporan KNKT pada 2015.
Tragedi ini memicu operasi pencarian besar-besaran yang melibatkan Basarnas, TNI, Polri, serta bantuan internasional dari Singapura, Malaysia, dan Australia. Puing pesawat dan jenazah korban ditemukan secara bertahap di Laut Jawa.
Selain itu, tragedi ini menimbulkan evaluasi besar terhadap prosedur penerbangan, pelatihan awak, serta sistem peringatan cuaca.
AirAsia Indonesia juga melakukan perbaikan operasional dan koordinasi dengan otoritas penerbangan.
Kini, 11 tahun setelah tragedi, keluarga korban masih mengenang peristiwa tersebut dengan doa dan tabur bunga di makam para korban.
Pemerintah dan otoritas penerbangan menegaskan bahwa tragedi QZ8501 menjadi pelajaran penting untuk memperkuat sistem keselamatan penerbangan di Indonesia.
“Tragedi ini adalah pengingat bahwa keselamatan harus selalu menjadi prioritas utama. Setiap kebijakan penerbangan harus berlandaskan pada evaluasi menyeluruh agar kejadian serupa tidak terulang,” ujar seorang pejabat Kementerian Perhubungan dalam peringatan 11 tahun tragedi QZ8501.
Tragedi AirAsia QZ8501 Surabaya–Singapura pada 28 Desember 2014 masih meninggalkan luka mendalam hingga kini.
Sebanyak 162 nyawa melayang, menjadikannya salah satu kecelakaan penerbangan paling kelam di Indonesia.
11 tahun kemudian, peristiwa ini tetap menjadi pelajaran berharga bagi dunia penerbangan, pentingnya kesiapan menghadapi cuaca ekstrem, pelatihan awak yang ketat, serta sistem keselamatan yang terus diperbarui.
Lebih dari sekadar mengenang, tragedi ini adalah pengingat bahwa keselamatan penumpang harus selalu menjadi prioritas utama. (nur)
Editor : Nurista Purnamasari