RADAR SURABAYA – Krisis plastik di Indonesia kembali menjadi sorotan dunia berkat suara mahasiswa Universitas Airlangga (Unair).
Aeshnina Azzahra Aqilani (Nina), mahasiswa Hubungan Internasional angkatan 2025, konsisten menyuarakan bahaya limbah plastik hingga ke forum internasional.
Berangkat dari pengamatan langsung terhadap sampah plastik di sungai dan tempat pembuangan akhir (TPA), Nina menilai persoalan plastik bukan sekadar isu lingkungan, tetapi juga ancaman kesehatan dan keselamatan manusia.
“Plastik sekali pakai bergerak pelan, tetapi terakumulasi seperti bom waktu. Dampaknya mungkin belum terasa sekarang, tetapi generasi kita yang akan menanggungnya,” ujarnya, Minggu (21/12).
Krisis Plastik Isu Global
Nina menegaskan bahwa masalah plastik melampaui batas negara. Karena itu, solusi harus dibicarakan di tingkat global dengan melibatkan generasi muda.
Ia menyoroti proses panjang perjanjian plastik global yang masih menghadapi resistensi dari negara-negara dengan ketergantungan tinggi pada produksi plastik.
Kiprah Internasional
Nina pernah terlibat dalam berbagai forum dunia, antara lain:
- Plastic Health Summit di Amsterdam
- COP-26 di Glasgow
- Intergovernmental Negotiating Committee (INC) di Kanada dan Korea Selatan
“Saya senang karena forum internasional mulai konsisten melibatkan suara anak muda dan mendengarkan kami secara serius,” tuturnya.
Hak Asasi dan Keadilan Generasi
Menurut Nina, krisis lingkungan erat kaitannya dengan hak asasi manusia dan keadilan antargenerasi. Kerusakan lingkungan hari ini akan diwariskan kepada anak-anak di masa depan.
“Anak-anak berhak atas lingkungan yang sehat, udara bersih, dan masa depan yang aman. Krisis plastik berarti melanggar hak dasar itu,” tegasnya.
Nina mengajak mahasiswa Unair agar tidak merasa kecil dalam membawa perubahan. “Perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil yang konsisten,” pungkasnya.(rmt)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan