RADAR SURABAYA– Sebagai wujud kepedulian terhadap kondisi bangsa, seluruh penghuni Asrama Mahasiswa Nusantara (AMN) Surabaya menggelar doa bersama lintas agama, Selasa (16/12).
Kegiatan ini bertujuan memohon perlindungan agar Indonesia terhindar dari bencana alam, sekaligus merawat kebhinekaan di lingkungan kampus.
Direktur Eksekutif AMN Surabaya, Dhian Satria Yudha, menjelaskan bahwa kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia yang kini menempuh studi di Surabaya.
Doa dipimpin secara bergantian oleh pemuka agama Islam, Nasrani, Hindu, dan Buddha.
Merawat Toleransi dan Kebersamaan
Menurut Dhian, kegiatan ini tidak hanya sekadar ritual, melainkan cerminan semangat toleransi yang kuat di antara penghuni asrama yang memiliki latar belakang budaya beragam.
"Kegiatan ini dilatarbelakangi keinginan memperkuat nilai spiritual, persatuan, serta keharmonisan di tengah keberagaman.
Ini sekaligus bentuk kepedulian nyata kami terhadap kondisi bangsa Indonesia," ungkap Dhian.
Respons terhadap Bencana Alam
Dhian menambahkan, intensitas bencana alam yang meningkat belakangan ini menjadi pemicu utama diselenggarakannya doa bersama.
Ia menyoroti beberapa bencana hidrometeorologi yang melanda berbagai wilayah di Tanah Air.
"Banyak sekali bencana alam, secara khusus banjir di Aceh, Sumatra Barat, atau yang terjadi di sekitar kita. Hal ini mendorong keluarga besar AMN Surabaya untuk memohon keselamatan," jelasnya.
Melalui doa ini, diharapkan beban masyarakat yang terdampak bencana dapat segera ringan. Selain itu, doa juga dipanjatkan agar Indonesia senantiasa dilimpahi kemakmuran dan keberkahan.
Pembinaan Karakter Mahasiswa
Kegiatan spiritual ini juga dirasakan memberikan dampak psikologis positif bagi para mahasiswa. Selain sebagai sarana refleksi diri, doa bersama dinilai ampuh memperkuat ketenangan batin dan persaudaraan.
Salah satu penerima beasiswa AMN Surabaya, Wais, mengaku bersyukur bisa beribadah bersama rekan-rekannya yang berbeda keyakinan.
"Kami sebagai mahasiswa berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan sebagai bagian dari pembinaan karakter," tutur Wais.
Para pemuka agama yang hadir turut berpesan agar mahasiswa senantiasa menjaga nilai saling menghormati dan hidup berdampingan secara damai.
Dengan demikian, diharapkan tercipta lingkungan akademik yang inklusif dan mampu melahirkan generasi berintegritas. (rmt)