RADAR SURABAYA - Angin laut Pantai Pasir Putih, Situbondo, berembus pelan pada Sabtu sore, 14 Desember 2025.
Ombak bergulung tenang, seolah ikut memberi salam perpisahan pada ratusan atlet selam yang baru saja menuntaskan perjuangan mereka di Kejuaraan Tingkat Nasional Open Water Finswimming dan Orientasi Bawah Air (OWF & OBA) Piala Gubernur Jawa Timur 2025.
Di bibir pantai, peluit terakhir telah ditiup. Medali memang telah dibagikan, tetapi yang tertinggal bukan sekadar catatan prestasi.
Laut telah menjadi ruang belajar—tentang keberanian, disiplin, dan ketenangan—nilai-nilai yang tak tercantum dalam klasemen, namun menetap di benak setiap peserta.
“Kejuaraan ini bukan hanya tentang siapa yang tercepat atau terkuat,” ujar Ketua Umum POSSI Jawa Timur, Mirza Muttaqien.
“Laut mengajarkan kita untuk menghormati alam, mengendalikan diri, dan tetap tenang dalam tekanan. Di situlah karakter atlet dibentuk.”
Di Antara Ombak dan Medali
Secara angka, Kabupaten Malang keluar sebagai juara umum antarkabupaten/kota dengan tujuh medali emas, dua perak, dan tiga perunggu.
Kota Surabaya dan Kota Batu menyusul di posisi berikutnya. Namun, di Pantai Pasir Putih hari itu, statistik hanyalah satu bagian dari cerita.
Di antara para peserta, seorang atlet cilik berusia delapan tahun berdiri dengan wetsuit yang masih basah.
Dengan genggaman tangan orang tuanya, ia baru saja menaklukkan lintasan laut terbuka—sebuah pengalaman pertama yang akan ia kenang jauh melampaui podium.
Tak jauh dari sana, atlet berusia 14 tahun memejamkan mata sejenak sebelum kembali menyelam.
Di kedalaman laut, ia belajar tentang fokus, kepercayaan diri, dan keberanian menghadapi kesunyian. Pelajaran yang tak diajarkan di ruang kelas.
“Ketika anak-anak dan prajurit berdiri di arena yang sama, olahraga berubah menjadi ruang pendidikan karakter,” kata Mirza. “Di situlah makna sejati kejuaraan ini.”
Teladan dari Laut
Pada kategori TNI/Polri, para atlet dari satuan TNI Angkatan Laut turut memberi warna tersendiri. Kopaska II tampil sebagai kontingen terbaik, disusul Kodiklatal, serta Kopaska dan Pasmar 2 Surabaya.
Bukan hanya prestasi yang mereka hadirkan, tetapi juga disiplin dan etika yang menjadi teladan di arena.
“Kami menyampaikan penghormatan setinggi-tingginya kepada atlet-atlet TNI AL. Mereka membawa nilai pengabdian yang memperkaya makna olahraga,” ujar Mirza.
Lebih dari Sekadar Kejuaraan
Bagi Situbondo, Piala Gubernur Jawa Timur 2025 bukan sekadar agenda olahraga. Ribuan pengunjung, pergerakan UMKM, dan geliat
pariwisata pesisir menjadi bukti bahwa olahraga mampu menggerakkan ekonomi sekaligus menumbuhkan kebanggaan daerah.
POSSI Jawa Timur menilai kejuaraan ini sukses tidak hanya secara teknis dan prestasi, tetapi
juga sebagai ruang pertemuan antargenerasi—antara atlet muda yang sedang belajar berani dan para prajurit yang telah teruji oleh disiplin.
Menjelang senja, matahari perlahan turun di ufuk barat. Pantai Pasir Putih kembali tenang. Namun, bagi mereka yang pernah menyelam di sini, laut telah meninggalkan pesan yang tak mudah dilupakan.
“Dari Situbondo, kita belajar bahwa laut tidak hanya melahirkan juara. Ia juga menempa keteguhan jiwa.” pungkas Mirza.(sam)