RADAR SURABAYA – Universitas Negeri Surabaya (Unesa) mengirimkan tim relawan untuk membantu warga terdampak banjir di Kabupaten Pidie Jaya dan Bireuen, Aceh. Tim relawan tersebut memberikan layanan kesehatan, pendampingan psikososial, serta bantuan logistik bagi para korban bencana.
Tim relawan Unesa yang terdiri atas dokter, perawat, psikolog, konselor, dan ahli kebugaran itu dipimpin Direktur Pencegahan dan Penanggulangan Isu Strategis (PPIS) Unesa, Mutimmatul Faidah. Setibanya di Aceh, rombongan disambut langsung Gubernur Aceh, Muzakir Manaf (Mualem), bersama jajaran Forkopimda dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh untuk melakukan koordinasi penyaluran bantuan.
Baca Juga: Gara-Gara Ketegangan Politik China-Jepang, Fansigning LE SSERAFIM di Shanghai Dibatalkan
“Dalam pertemuan dengan Gubernur Aceh dan jajarannya, kami menyampaikan berbagai bantuan yang disiapkan Unesa, berupa logistik, layanan kesehatan, serta dukungan beasiswa bagi mahasiswa asal daerah terdampak bencana,” ujar Mutimmatul, Minggu (14/12).
Usai berkoordinasi, tim relawan Unesa melanjutkan perjalanan sekitar empat jam menuju Posko Pengungsian Kabupaten Pidie Jaya. Mereka membawa satu unit kendaraan pikap berisi sembako, makanan siap saji, paket kesehatan keluarga, obat-obatan, perlengkapan psikososial, serta pakaian ganti. Bantuan tersebut diterima langsung oleh Kepala Dinas Sosial Kabupaten Pidie Jaya.
Selanjutnya, tim bergerak menuju Kabupaten Bireuen dengan waktu tempuh sekitar dua jam. Di Posko Pengungsian Kecamatan Peusangan, Unesa menurunkan dua unit kendaraan pikap berisi logistik.
Tim dibagi ke dalam tiga titik kegiatan, yakni pemeriksaan kesehatan oleh tim medis, pendampingan anak-anak melalui kegiatan bermain dan bercerita oleh tim psikososial, serta penguatan spiritual bagi ibu dan orang tua di pengungsian.
Baca Juga: Gubernur Khofifah Tegaskan Komitmen Pemprov Jatim Perkuat Kesejahteraan Guru
“Tim Unesa bermalam di Bireuen. Kondisi kota relatif normal meskipun listrik sempat padam. Aktivitas pendampingan warga di pengungsian terus dilakukan, sementara penanganan di desa-desa terdampak masih berlangsung,” kata guru besar Unesa tersebut.
Mutimmatul juga menggambarkan kondisi para korban yang telah belasan hari tinggal di pengungsian. Menurutnya, warga menunjukkan ketangguhan dalam menghadapi bencana.
“Mereka bersedih, tetapi tidak rapuh. Rumah terendam, sebagian rusak, dan harta benda hilang, namun semangat untuk bertahan dan bangkit tetap terjaga,” ujarnya.
Ia menambahkan, para korban masih menyimpan harapan dan doa untuk memulai kembali kehidupan mereka. “Dengan semangat gotong royong dan dukungan bersama, mereka yakin dapat bangkit dari bencana ini,” pungkasnya. (rmt)
Editor : Lambertus Hurek