RADAR SURABAYA - Desember 2025 seharusnya menjadi bulan penuh pesta bagi sepak bola Indonesia.
Namun, yang terjadi justru sebaliknya: kekecewaan besar usai Timnas U-22 gagal lolos semifinal SEA Games 2025 di Thailand.
Kekalahan mengejutkan 0-1 dari Filipina di laga pembuka (8 Desember) dan kemudian tersingkir karena kalah selisih gol dari Malaysia, meski menang 3-1 atas Myanmar, menjadi tamparan keras bagi publik yang baru saja bermimpi besar.
Sepak bola Indonesia kini berada di persimpangan: ada kemajuan nyata di beberapa sektor, tetapi prestasi tim nasional—terutama di level kelompok umur—masih menjadi luka terbuka yang sulit disembuhkan.
Prestasi Tim Nasional: Cahaya Redup
Timnas Senior memang sudah menyelesaikan Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia dengan finis peringkat 4 Grup C (12 poin), Namun gagal secara menyakitkan di babak selanjutnya.
Pergantian pelatih dari Shin Tae-yong ke Patrick Kluivert awalnya meyakinkan, namun hasilnya menyakitkan.
Di level kelompok umur, ceritanya lebih kelam. Timnas U-22 yang diasuh Indra Sjafri dicap “tak pernah menang sepanjang 2025” oleh sebagian besar netizen.
Setelah kejayaan emas SEA Games 2023, kegagalan tahun ini terasa sangat pahit. Banyak yang menilai menyalahkan pola pembinaan, pemilihan pemain, hingga dugaan “pengaturan hasil” yang selalu jadi bahan gunjingan di media sosial.
Timnas Putri relatif lebih stabil. Mereka sedang mempersiapkan Kualifikasi Piala Asia Wanita 2026 dengan skuad yang semakin banyak diisi pemain yang berkarier di luar negeri.
Meski belum mentereng, setidaknya tidak ada drama sebesar di tim putra.
Liga Domestik: Semakin Sehat, Tapi Belum Merata
Super League 2025/26 sedang berlangsung sengit. Persib Bandung untuk sementara memuncaki klasemen hingga pekan ke-15, diikuti Persija, Bali United, dan Dewa United yang terus mengejar.
Investasi asing yang semakin banyak (terutama dari Malaysia dan Singapura) membuat finansial klub-klub besar lebih terjamin.
Hak siar dan sponsor juga naik signifikan sejak era kepemimpinan Erick Thohir di PSSI.
Namun, jurang antara klub besar dan kecil masih lebar. Beberapa klub masih sulit menggaji pemain tepat waktu.
Liga 2 juga belum sepenuhnya profesional, meski sistem promosi-degradasi sudah lebih adil.
Infrastruktur dan Pembinaan: PR Terbesar
Stadion-stadion baru seperti Jakarta International Stadium (JIS) dan Manahan Solo memang megah, tapi mayoritas pertandingan Liga 1 masih digelar di stadion yang jauh dari standar FIFA.
Lapangan rusak, drainase buruk, dan fasilitas penonton yang minim masih jadi pemandangan biasa.
Pembinaan usia dini mulai membaik dengan hadirnya beberapa akademi berkualitas (Persib Academy, Bali United Youth, Bhayangkara Presisi Muda), tapi jumlahnya masih sangat terbatas.
Mayoritas pemain muda Indonesia masih “mentah” ketika naik ke tim senior, sehingga banyak yang kalah bersaing dengan pemain naturalisasi atau diaspora.
Suara Publik: Dari Antusias ke Apatis
Media sosial, terutama X (Twitter), dipenuhi keluhan. Tagar seperti #PSSIBobrok, #IndraSjafriOut, hingga #SepakbolaIndonesiaMati sempat trending setelah kekalahan dari Filipina.
Banyak suporter yang sudah lelah dengan janji-janji “menuju Piala Dunia 2030” yang terasa semakin jauh.
Di sisi lain, masih ada sekelompok suporter fanatik, Bonek, Jakmania, Bobotoh, The Macz Man, atau kelompok suporter lainnya yang tetap setia datang ke stadion setiap pekan.
Mereka inilah yang menjaga api sepak bola Indonesia tetap menyala, meski kadang hanya dengan harapan sekecil lilin.
Jika PSSI mampu melakukan evaluasi total, terutama di sektor pembinaan usia dini, profesionalisme liga, dan transparansi manajemen, masih ada peluang untuk bangkit.
Jangan hanya mengandalkan naturalisasi. Naturalisasi boleh tapi pilih yang berkualitas dan “keberuntungan sesaat”, maka mimpi besar itu akan terus tertunda.
Sepak bola Indonesia saat ini ibarat pasien yang sedang koma: masih bernapas, jantung masih berdetak, tapi belum sepenuhnya sadar, buka mata saja belum.
Yang dibutuhkan bukan sekadar obat penghilang nyeri, tapi operasi besar-besaran untuk menyembuhkan penyakit kronis yang sudah puluhan tahun menggerogoti tubuhnya.
Apakah 2026 akan jadi tahun kebangkitan, atau hanya pengulangan kekecewaan? Waktu yang akan menjawab.
Yang pasti, suporter Indonesia tidak pernah benar-benar pergi, mereka hanya sedang menunggu alasan untuk kembali percaya. Bagaimana PSSI?
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan