Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Piala Dunia 2026 Selebriti Sidoarjo Surabaya Surabayapedia Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Inovasi Petani Kakao, Ubah Limbah Kulit Jadi Pakan Bernutrisi, Hasilkan Pupuk Organik Suburkan Kebun Kakao

Mus Purmadani • Jumat, 12 Desember 2025 | 21:47 WIB
Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Timur, Ir. Dydik Rudy Prasetya, MMA.
Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Timur, Ir. Dydik Rudy Prasetya, MMA.

RADAR SURABAYA — Jawa Timur terus meneguhkan posisinya sebagai salah satu pusat perkebunan nasional. Di antara beragam komoditas unggulan, kakao kembali menonjol setelah sebelumnya menghadapi tantangan berat akibat hama penggerek buah dan perubahan iklim yang menekan produktivitas.

Berkat pembinaan intensif Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Dinas Perkebunan (Disbun), geliat budidaya kakao terlihat semakin menjanjikan. Ribuan petani di berbagai kabupaten kini mengandalkan kakao sebagai sumber ekonomi yang stabil.

Namun, kebangkitan kakao Jawa Timur bukan hanya disumbang oleh produksi biji kakao berkualitas. Kunci utamanya terletak pada kemampuan petani berinovasi, terutama dalam memanfaatkan limbah kulit buah kakao.

MENGHASILKAN: Berkat pembinaan intensif Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Dinas Perkebunan (Disbun), geliat budidaya kakao terlihat semakin menjanjikan.
MENGHASILKAN: Berkat pembinaan intensif Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Dinas Perkebunan (Disbun), geliat budidaya kakao terlihat semakin menjanjikan.

Selama bertahun-tahun, kulit buah kakao hanya dianggap sisa panen yang ditumpuk dan dibiarkan membusuk. Padahal, setiap satu ton biji kakao dapat menghasilkan hingga sepuluh ton kulit buah—potensi besar yang sebelumnya terabaikan.

Kini paradigma itu berubah. Lewat proses fermentasi sederhana, kulit kakao berhasil diolah menjadi pakan ternak kaya nutrisi, terutama untuk kambing. Kandungan serat, karbohidrat, dan komponen bioaktif menjadikan pakan ini tidak hanya hemat biaya, tetapi juga mendukung kesehatan ternak.

Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Timur, Ir. Dydik Rudy Prasetya, MMA, menyebut inovasi ini sebagai tonggak penting dalam menciptakan ekonomi sirkular di desa-desa sentra kakao.

“Kakao memberi kita biji untuk cokelat, kulitnya memberi makan ternak, dan kotoran ternaknya kembali menjadi pupuk untuk kebun kakao. Siklus ini tertutup dengan sempurna. Tidak ada yang terbuang,” ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa para petani kini memperoleh manfaat berlapis: pakan ternak lebih murah, ternak lebih sehat, dan hasil akhirnya berupa kotoran ternak dapat diolah menjadi pupuk organik untuk menyuburkan kembali tanaman kakao.

“Petani Jawa Timur bukan hanya mahir membudidayakan kakao, tapi juga kreatif menciptakan nilai tambah. Integrasi usaha tani seperti ini membuat penghasilan lebih stabil dan usaha perkebunan menjadi jauh lebih efisien,” tambah Dydik.

Di berbagai sentra kakao, model integrasi ini mulai menghasilkan dampak nyata. Petani tidak lagi sepenuhnya bergantung pada pakan komersial yang harganya sering melonjak. Sebaliknya, ternak yang mereka pelihara kini menjadi aset produktif yang juga menyokong kebun kakao. Pupuk organik dari kotoran ternak terbukti memperbaiki struktur tanah, meningkatkan mikroorganisme alami, dan menekan biaya pemupukan.

Dengan demikian, rantai sirkular kakao → pakan ternak → pupuk organik → kebun kakao berjalan utuh dan saling menguatkan.

Dari sisi lingkungan, pemanfaatan limbah kulit kakao mengurangi potensi pencemaran organik, sekaligus menekan penggunaan pupuk kimia. Ini mendukung arah pembangunan perkebunan berkelanjutan yang menjadi prioritas Disbun Jatim.

“Masa depan pertanian ada pada keberlanjutan. Ketika semua yang dihasilkan tanaman kembali memberi manfaat, saat itulah kesejahteraan petani meningkat dan lingkungan tetap terjaga,” ujar Rudy.

Disbun Jatim berkomitmen memperluas model ini melalui pelatihan pengolahan limbah, peningkatan kapasitas budidaya, hingga penguatan akses pasar. Kolaborasi dengan universitas dan lembaga riset terus digencarkan untuk memperkaya aspek teknologi pengolahan kakao dan produk turunannya.

Dengan inovasi yang terintegrasi dari hulu ke hilir, kakao Jawa Timur tidak sekadar bangkit, tetapi menapaki era baru yang lebih mandiri, efisien, dan berkelanjutan. Setiap bagian dari tanaman kakao kini memiliki peran, dan semua kembali pada satu tujuan: memperkuat ekonomi pedesaan dari kakao—kembali ke kakao. (mus/vga)

Editor : Vega Dwi Arista
#perkebunan #kakao #pupuk #organik #petani