RADAR SURABAYA – Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menjadi salah satu perwakilan Asia Tenggara dalam Symposium on Global Sustainability Education Innovations in Digital & International Teaching yang diselenggarakan di Hamburg University of Applied Sciences, Jerman.
Forum internasional yang dipimpin ilmuwan dunia Top 2 Persen World Scientist, Walter Leal, ini mempertemukan peneliti lintas negara untuk membahas inovasi pendidikan berkelanjutan dan transformasi digital dalam pengajaran global.
Wakil Rektor III Unesa, Bambang Sigit Widodo, menyampaikan bahwa keikutsertaan kampus Rumah Para Juara dalam forum tersebut semakin menegaskan komitmen Unesa dalam
mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) dan SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi).
“Unesa terus berkontribusi mewujudkan SDGs melalui program unggulan serta partisipasi aktif dalam forum nasional dan internasional seperti ini,” ujarnya, Kamis (11/12).
Unesa Paparkan Model Pentahelix untuk Pendidikan Berkelanjutan
Dalam forum tersebut, dua dosen Unesa, Hendri Prastiyono dan Jauhar Wahyuni, mempresentasikan penelitian akademik yang menyoroti penguatan pendidikan berkelanjutan di Indonesia.
Hendri memaparkan materi berjudul Higher Education and Academic Participatory: A Pentahelix Model for Advancing Sustainability Education in Indonesia.
Ia menekankan pentingnya pendekatan pentahelix yang mengintegrasikan unsur akademisi, pemerintah, media, dunia usaha, dan masyarakat.
“Pendekatan ini memperkuat sinergi teaching–research–community service yang menyambungkan berbagai sektor dan wilayah di Indonesia,” jelasnya.
Penelitian yang dipresentasikan Hendri melibatkan 160 akademisi dari 10 universitas besar, 100 peserta FGD pentahelix, serta 1.622 responden survei dari lima pulau besar.
Temuan penelitian menunjukkan bahwa kolaborasi pentahelix memberi dampak kuat terhadap implementasi Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM), seperti pelayanan publik, gerakan bersih, keselamatan lalu lintas, kewirausahaan lokal, hingga budaya gotong royong.
Walter Leal mengapresiasi kontribusi tersebut. “Unesa menunjukkan bagaimana universitas Global South mampu memadukan data, budaya, dan kebijakan nasional untuk meningkatkan kualitas pendidikan.
Model pentahelix ini relevan bagi negara lain yang ingin mempercepat SDG 4,” ujarnya.
Living Labs, AI Literacy, dan Kesetaraan Gender Jadi Sorotan Global
Pada sesi berikutnya, Jauhar Wahyuni menyampaikan penelitian bertema Inclusive Student Engagement in Urban Sustainability: AI Literacy, Gender Equality, and Living Labs for Civic Innovation.
Studi ini menyoroti ekosistem literasi AI, kesetaraan gender, dan Living Labs yang dikembangkan Unesa untuk mempersiapkan mahasiswa menghadapi kompetisi dunia kerja abad ke-21.
Penelitian tersebut melibatkan 193 mahasiswa dari lima universitas di Surabaya: Unesa, Universitas Airlangga, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Kristen Petra, dan Universitas Surabaya.
Hasil kajian menunjukkan bahwa literasi AI mahasiswa berada pada tingkat tinggi, tetapi masih dipengaruhi pola pengajaran.
Selain itu, gender-sensitive digital inclusion menjadi faktor penting dalam mendorong partisipasi mahasiswa terhadap inovasi berkelanjutan, sementara Living Labs terbukti efektif menyediakan wadah kolaborasi lintas disiplin.
Lindokuhle Denis Sibiya dari University of South Africa menilai pendekatan Living Labs di Indonesia sebagai strategi penting dalam mempercepat ekonomi digital.
“Ini bukan hanya pendidikan, tetapi akselerator ekonomi digital yang inklusif,” ungkapnya.
Senada dengan itu, Iryna Shvetsova dari Kherson State Maritime Academy menyebut integrasi literasi AI dan kesetaraan gender yang
diterapkan Unesa sebagai pendekatan human-centered yang dapat direplikasi di negara berkembang.(rmt)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan