RADAR SURABAYA - Tragedi memilukan terjadi di Sungai Lusi, Kelurahan Kedungjenar, Kecamatan Blora, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Sebanyak delapan santriwati Muhammadiyah Boarding School (MBS) Tahfidzul Qur’an Al Maa’uun Blora dilaporkan terjebak arus deras sungai pada Kamis (11/12) pagi.
Dari jumlah tersebut, empat santriwati masih hilang tenggelam, sementara tiga lainnya berhasil diselamatkan, dan seorang ditemukan dalam keadaan meninggal.
Kronologi Kejadian
Menurut saksi mata yang juga santriwati, Ardina Kiki Sulistyawati, 13, peristiwa terjadi sekitar pukul 06.30 WIB. Awalnya, rombongan santriwati mendekati Sungai Lusi untuk melihat arus.
Saat berada di tepi sungai, beberapa santriwati nekat masuk ke aliran air. Arus deras kemudian menyeret lima orang hingga tenggelam. Tiga santriwati lainnya berhasil diselamatkan oleh rekan dan warga sekitar.
"Awalnya mereka mau lihat arus sungai, terus mereka sudah kita bilangin jangan masuk, tapi tetap masuk. Ada delapan orang," kata Ardina.
Korban berasal dari kelas yang berbeda-beda. "Ada kelas 7, ada yang kelas 8, ada yang kelas 9, ada yang kelas 10, ada yang kelas 11, dan ada yang kelas 12," jelasnya.
Menurut Kiki, para korban itu rencananya mau mencari kerang di sungai. Dia melarang agar para korban tidak ke sungai, namun tidak diindahkan.
"Tadi mereka bilang katanya mau nyari kerang tapi biasanya kerang kan musiman. Terus juga karena habis hujan, terus naik airnya semakin naik terus arusnya kencang," terangnya.
Puluhan petugas gabungan dari BPBD Blora, TNI, Polri, dan warga dikerahkan untuk melakukan pencarian. Tim menggunakan perahu karet dan menyisir tepian sungai mengikuti arus deras. Hingga siang hari, kelima santriwati yang hilang belum ditemukan.
Kasatreskrim Polres Blora, AKP Zaenul Arifin, mengonfirmasi peristiwa tenggelamnya delapan santri MBS. Tercatat, empat orang santriwati masih dalam pencarian. Tiga santriwati berhasil selamat setelah tersangkut di batang pohon.
Sekitar pukul 13.00 WIB, tim SAR menemukan satu korban dalam kondisi meninggal dunia berjarak sekitar 100 meter dari lokasi awal kejadian.
Penyisiran masih terus dilakukan menggunakan perahu karet dan penyelaman manual. Arus yang deras menjadi hambatan utama dalam proses pencarian.
“Kami terus berupaya maksimal untuk menemukan para korban lainnya. Mohon doa dari masyarakat agar semuanya segera ditemukan,” kata Arifin.
Arifin mengatakan, saat ini telah dibentuk tim gabungan dari BPBD Blora, Basarnas, TNI, Polri, dan relawan. Tim dikerahkan untuk melakukan penyisiran sungai.
Tragedi tenggelamnya santriwati MBS Tahfidzul Qur’an Al Maa’uun Blora di Sungai Lusi menjadi peringatan keras akan pentingnya pengawasan aktivitas santri di sekitar kawasan berbahaya. (net/nur)
Editor : Nurista Purnamasari