Di Antara Banjir dan Ujian: Mahasiswi ITS Asal Aceh Bertahan dengan Doa dan Daya
Rahmat Sudrajat• Rabu, 10 Desember 2025 | 01:12 WIB
Nayla Furzatullah Azmi
Surabaya–Bireuen: Dua Dunia yang Bertabrakan
RADAR SURABAYA - Ketika sebagian mahasiswa sibuk mempersiapkan ujian semester, Nayla Firzatullah Azmi justru harus membagi pikirannya antara ruang kelas di Surabaya dan kampung halaman di Bireuen, Aceh.
Mahasiswi Jurusan Biologi semester III Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) ini menghadapi ujian dengan hati yang resah.
Bukan hanya soal materi kuliah, tetapi juga kabar keluarga yang terjebak banjir setinggi tiga meter dan hilang kontak selama sepuluh hari.
Banjir Besar di Bireuen Aceh
Bencana banjir yang melanda Bireuen, Aceh, awal Desember lalu menjadi salah satu yang terparah.
Air tiba-tiba naik tanpa peringatan, merendam rumah warga hingga atap, memaksa banyak keluarga mengungsi. Ayah Nayla, seorang petani, sempat terjebak di mess tempatnya bekerja.
“Sepuluh hari saya tidak mendapat kabar sama sekali. Pikiran saya hanya putus asa, tidak tahu harus bertanya ke mana,” ungkap Nayla.
Kabar selamat akhirnya datang melalui pesan WhatsApp. Ayahnya berhasil dievakuasi ke pengungsian setelah bertahan di atap rumah
ketika air naik dari dua meter menjadi tiga meter. Namun, komunikasi kembali terputus, membuat Nayla kembali dihantui rasa cemas.
Mahasiswa Perantauan dan Beban Psikologis Kisah Nayla bukanlah satu-satunya. Banyak mahasiswa perantauan di Surabaya yang keluarganya terdampak bencana di Sumatera Utara, Sumatera Barat dan Aceh.
Mereka harus menyeimbangkan beban akademik dengan rasa khawatir yang terus menghantui.
Kondisi ini menimbulkan tekanan psikologis yang nyata: sulit fokus belajar, rasa putus asa, hingga ketakutan gagal ujian.
Peran Kampus sebagai Penyangga
ITS menunjukkan kepeduliannya dengan memberikan fasilitas khusus bagi mahasiswa korban bencana.
Mulai dari pendampingan psikolog, pembebasan sementara Uang Kuliah Tunggal (UKT), hingga ruang konseling.
“Jujur, selama ujian saya sangat bingung karena khawatir ayah. Tapi setelah mendapat kabar selamat dan fasilitas psikolog dari kampus, saya mulai bisa fokus lagi,” kata Nayla.
Langkah kampus ini menjadi penyangga penting bagi mahasiswa yang sedang berjuang. Dukungan psikologis dan keringanan finansial memberi mereka ruang untuk tetap bertahan, meski hati masih diliputi kecemasan.
Human Interest: Keteguhan di Tengah Badai Kisah Nayla menggambarkan keteguhan seorang mahasiswa yang harus menghadapi dua badai sekaligus: banjir di kampung halaman dan ujian di bangku kuliah.
Ia belajar bahwa fokus akademik tidak bisa dilepaskan dari kondisi emosional. Dukungan keluarga, kabar selamat, dan perhatian kampus menjadi energi untuk bangkit.(rmt)