RADAR SURABAYA - Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) memastikan kebutuhan obat-obatan dan bahan medis habis pakai bagi warga terdampak bencana di Pulau Sumatera masih tercukupi.
Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan, Lucia Rizka Andalusia, menegaskan bahwa distribusi logistik kesehatan berjalan lancar meski jumlah pengungsi mencapai lebih dari 500 ribu orang.
Data terbaru menunjukkan, pengungsi terbanyak berada di Sumatera Utara, disusul Aceh dan Sumatera Barat.
Rizka menjelaskan, salah satu risiko kesehatan yang kerap muncul di lokasi bencana adalah luka akibat terkena benda tajam seperti seng atau paku.
Untuk mencegah infeksi serius, terutama tetanus, Kemenkes menyiapkan anti tetanus serum bagi korban.
“Kalau ada bencana, banyak yang terkena luka akibat seng atau paku. Kita berikan serumnya, anti tetanus serum untuk mencegah agar tidak terjadi infeksi,” ujarnya dikutip, Minggu (7/12).
Ia menambahkan, hingga saat ini seluruh kebutuhan logistik kesehatan, mulai dari obat-obatan, bahan medis habis pakai, hingga dukungan pelayanan dasar, masih dapat dipenuhi dan didistribusikan dengan baik ke wilayah terdampak.
“Semua bisa dipenuhi terutama untuk pelayanan kesehatan dasar buat masyarakat di kamp-kamp pengungsian maupun di rumah sakit,” tegasnya.
Selain itu, saat ini pengungsi juga dihantui penyakit-penyakit yang rentan menyerang seperti penyakit kulit, diare, demam, dan batuk pilek. Apalagi karena masalah sanitasi yang kurang memadai dan kondisi pasca banjir.
Kemenkes juga menegaskan tidak ada hambatan berarti dalam pemenuhan logistik kesehatan untuk para pengungsi maupun fasilitas kesehatan di wilayah terdampak.
Dengan jumlah pengungsi mencapai lebih dari setengah juta orang, Kemenkes RI memastikan kebutuhan obat-obatan dan pelayanan kesehatan dasar tetap terpenuhi.
“Semoga pelayanan kesehatan dasar ini bisa menjaga kondisi pengungsi tetap stabil dan mencegah wabah penyakit di lokasi bencana,” pungkas Rizka. (dtk/nur)
Editor : Nurista Purnamasari