RADAR SURABAYA – Ancaman siklon tropis di Samudra Hindia kembali meningkat. Setelah tragedi dahsyat Siklon Seniyar di Sumatera, pakar mitigasi kebencanaan Amien Widodo
memperingatkan adanya bibit siklon baru di selatan Pulau Jawa yang berpotensi memengaruhi cuaca ekstrem di Jawa, Bali, NTT, hingga Papua.
Dampak Siklon Seniyar: 836 Tewas dan Ribuan Rumah Rusak
Sebelum bencana terjadi, BMKG sebenarnya telah mengeluarkan peringatan dini terkait potensi siklon yang memicu hujan ekstrem, banjir bandang, dan longsor.
Namun, skala dampaknya tetap sangat besar.
Hingga kini, data sementara mencatat:
836 korban meninggal dunia
518 orang hilang
Lebih dari 10.500 rumah rusak
536 fasilitas umum dan 295 jembatan terdampak
Banyak desa terisolasi akibat jalan putus serta lumpuhnya air, listrik, dan komunikasi
“Tanah menjadi tidak stabil dan banjir bandang membawa lumpur, batu, dan kayu gelondongan dengan daya rusak sangat besar,” jelas Amien, dosen Departemen Teknik Geofisika ITS, Jumat (5/12).
Ia menambahkan bahwa kerusakan hutan dan topografi curam memperparah dampak Siklon Seniyar di Sumatera.
BMKG: Ada Bibit Siklon Baru di Selatan Jawa
BMKG mengonfirmasi munculnya bibit siklon tropis baru yang berpotensi memengaruhi cuaca di Jawa–Bali–NTT–Timika.
Amien menegaskan bahwa peringatan dini ini harus segera ditindaklanjuti mengingat tragedi di Sumatera membuktikan bahwa keterlambatan persiapan dapat berakibat fatal.
BPBD Jawa Timur: 14 Potensi Bencana Telah Dipetakan
Di Jawa Timur, BPBD telah memetakan 14 potensi bencana, termasuk banjir bandang, longsor, dan cuaca ekstrem.
Lebih dari 30 kabupaten/kota berada di zona rawan, mulai Pacitan, Ponorogo, Malang, hingga Banyuwangi.
Kunci Keselamatan: Masyarakat Harus Mandiri dalam Mitigasi
Mengutip survei korban Gempa Kobe 1995, Amien menegaskan bahwa:
35% penyelamatan dilakukan korban sendiri
32% oleh keluarga
28% oleh tetangga
Bantuan luar hanya 5%
“Semua anggota keluarga—termasuk lansia, balita, dan penyandang disabilitas—harus memahami ancaman di sekitar mereka,” tegasnya.
Menurut Amien, jika masyarakat dibekali pengetahuan mitigasi dan persediaan yang tepat, mereka dapat bertahan hidup meski terisolasi tanpa menunggu bantuan eksternal.
Ia menegaskan perlunya kolaborasi lintas sektor.
“Jika setiap keluarga dan setiap kampung sadar ancaman, maka 95 persen dari mereka akan selamat,” pungkasnya.(rmt)