RADAR SURABAYA – Kemunculan Rafflesia hasseltii di Sumatera Barat kembali menarik perhatian publik terhadap keberadaan tanaman langka endemik Indonesia.
Pakar botani Universitas Airlangga (Unair) Prof Hery Purnobasuki menjelaskan karakteristik unik Rafflesia serta tantangan besar dalam upaya pelestariannya.
Menurut Prof. Hery, Rafflesia merupakan tanaman parasit murni yang sepenuhnya bergantung pada tanaman inang.
“Rafflesia adalah tanaman parasit yang menumpang pada tanaman lain. Indonesia memiliki iklim yang sangat cocok untuk pertumbuhannya,” ujarnya, Selasa (3/12).
Rafflesia hanya dapat tumbuh pada tanaman merambat tertentu dan tidak memiliki struktur daun ataupun kemampuan fotosintesis.
Seluruh kebutuhan nutrisinya berasal dari jaringan inang. Karena itu, habitat Rafflesia harus memiliki kondisi sangat spesifik, minim polusi, dan jauh dari aktivitas manusia.
Indonesia diketahui memiliki sekitar 13–14 spesies Rafflesia, termasuk Rafflesia arnoldii yang paling populer.
Prof. Hery menilai bahwa eksplorasi lebih luas di berbagai wilayah berpotensi mengungkap spesies baru.
Terkait kemunculan Rafflesia hasseltii, ia menegaskan bahwa bunga tersebut sebenarnya telah terdeteksi lebih awal.
“Secara morfologi, kuncup Rafflesia dapat dikenali sejak awal. Warga memberi informasi, lalu praktisi memantau hingga bunganya mekar. Jadi bukan muncul tiba-tiba,” jelasnya.
Proses reproduksi dan penyebaran embrio Rafflesia pun masih menjadi teka-teki besar. Dugaan kuat menyebut adanya perantara, tetapi mekanismenya belum dapat dipastikan.
“Bunga jantan dan betina Rafflesia terpisah. Untuk pembuahan, pasti ada perantara. Namun bagaimana embrio masuk ke jaringan inangnya masih misteri besar,” tambah Prof. Hery.
Dengan status Indonesia sebagai negara dengan keanekaragaman hayati terbesar kedua di dunia setelah Brasil, peluang menemukan spesies endemik baru sangat besar.
Namun, ancaman alih fungsi lahan menjadi salah satu faktor yang mempersempit habitat tanaman langka ini.
“Kalau ini dianggap kekayaan, maka harus dipertahankan, bukan hanya diumumkan. Diperlukan kolaborasi banyak pihak untuk melindungi habitatnya,” tegasnya.
Prof. Hery juga menyoroti pentingnya pengembangan teknik kultur Rafflesia untuk mengembalikan tanaman tersebut ke habitat alaminya, sekaligus membuka peluang bagi peneliti Indonesia tercatat dalam nomenklatur ilmiah sebagai penemu spesies baru. (rmt)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan