RADAR SURABAYA – Upaya mengembangkan terapi osteoporosis yang lebih efektif terus dilakukan para peneliti Indonesia.
Salah satunya datang dari Dr. Maria Apriliani Gani, alumnus PMDSU Fakultas Farmasi Universitas Airlangga (Unair), yang berhasil menciptakan model seluler peniru kondisi osteoporosis sebagai platform skrining obat generasi baru.
Osteoporosis masih menjadi masalah kesehatan global, terutama menyerang perempuan pascamenopause.
Penyakit ini disebabkan ketidakseimbangan antara osteoblas—sel pembentuk tulang—dan osteoklas—sel penghancur tulang. Terapi yang ada saat ini belum mampu memulihkan struktur tulang secara optimal.
Model Seluler Lebih Relevan dan Bisa Gantikan Uji Hewan
Model seluler yang dikembangkan Dr. Maria memadukan kultur dua sel (in vitro co-culture) berisi osteoblas dan osteoklas yang mampu meniru kondisi tulang penderita osteoporosis.
“Model ini diharapkan dapat menggantikan pengujian hewan coba dan menjadi metode skrining obat yang lebih relevan secara biologis,” jelasnya, Senin (1/12).
Penelitian ini juga menggabungkan pendekatan in vitro–in silico untuk mempercepat identifikasi metabolit bioaktif dari tanaman obat lokal yang berpotensi menjadi terapi antiosteoporosis.
Tanaman Lokal Indonesia Berpotensi Jadi Obat Antiosteoporosis
Melalui kolaborasi dengan pakar Fakultas Farmasi UI, Dr. Maria melakukan karakterisasi metabolit dari tanaman Indonesia yang diprediksi memiliki aktivitas antiosteoporosis.
“Kandidat tanaman obat dapat diuji secara mekanistik untuk melihat kemampuan meningkatkan pembentukan tulang dan menekan aktivitas osteoklas,” ujarnya.
Manfaat Besar untuk Perempuan Pascamenopause
Inovasi ini menjadi angin segar bagi perempuan, terutama kelompok lansia yang rentan mengalami pengeroposan tulang.
Model seluler ini berpotensi menghadirkan terapi berbasis tanaman lokal yang lebih aman serta mempercepat proses diagnosis dan penemuan obat baru.
Kolaborasi Riset dan Pesan untuk Generasi Muda
Dr. Maria menekankan pentingnya kolaborasi dalam penelitian.
“Saya harus aktif bekerja sama dengan peneliti lain, baik sebagai mahasiswa tugas akhir maupun research assistant,” katanya.
Ia juga berterima kasih kepada Unair yang membekalinya dengan kemampuan berpikir kritis dan disiplin.
“Manfaatkan setiap kesempatan. Jangan takut bermimpi besar, mencoba hal baru, dan terus belajar,” pesannya.(rak)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan