RADAR SURABAYA – Lonjakan sampah plastik di Surabaya kian mengkhawatirkan. Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN)
KLH mencatat Surabaya menghasilkan 660.947 ton sampah pada 2024, dengan 22 persen di antaranya berupa plastik—lebih tinggi dari rata-rata nasional (19,78 persen).
Kondisi ini kian memperparah pencemaran mikroplastik yang telah ditemukan di air hujan dan berisiko masuk ke tubuh manusia.
Secara global, laporan OECD menunjukkan sampah plastik melonjak dari 213 juta ton menjadi 460 juta ton dalam dua dekade terakhir.
Greenpeace: Perlu Larangan Plastik Sekali Pakai dan Standar Uji Mikroplastik
Juru Kampanye Zero Waste Greenpeace Indonesia, Ibar F. Akbar, mendesak pemerintah dan produsen bergerak lebih cepat.
“Pemerintah harus memperbaiki sistem pemilahan sampah, mempercepat larangan plastik sekali pakai, dan menetapkan ambang batas kontaminasi mikroplastik,” ujarnya, Senin (1/12).
Ibar juga meminta produsen meningkatkan transparansi komposisi plastik dan menyusun peta jalan pengurangan sampah.
Temuan 23 Bahan Kimia Berbahaya di Tubuh Pekerja Pemilah Sampah
Penelitian bersama WIOEH, ECOTON, dan Fakultas Kedokteran Unair terhadap 32 perempuan pemilah sampah di Gresik
menemukan 23 bahan kimia berbahaya dalam seluruh sampel urin, dengan kadar lebih tinggi pada kelompok pekerja.
Dr. Lestari Sudaryanti menegaskan risiko gangguan hormon, penyakit metabolik, hingga masalah kesehatan reproduksi.
“Indonesia perlu memperkuat perlindungan pekerja dan regulasi bahan kimia berbahaya,” katanya.
Daru Setyorini dari Ecoton Foundation menilai temuan ini sebagai alarm keras atas buruknya tata kelola sampah nasional.
Air Hujan Surabaya Tercemar Mikroplastik Tinggi
Riset Jejak, Growgreen, River Warrior, dan Ecoton menemukan cemaran mikroplastik tertinggi di Pakis Gelora (356 partikel/liter) dan Tanjung Perak (209 partikel/liter).
Partikel didominasi polimer dari gesekan ban kendaraan dan serpihan botol plastik sekali pakai.
Mahasiswa Unair Dorong Aksi Generasi Muda Lawan Mikroplastik
SDGs Ambassador Unair, Gabriella Amanda, menilai bahaya mikroplastik harus menjadi gerakan bersama.
“Semangat generasi muda dapat membawa pesan ini ke masyarakat luas,” ujarnya dalam diskusi Invisible Threat of Microplastics.
Pengunjung juga mengikuti uji Citizen Science dengan membawa sampel air hujan dari rumah untuk dianalisis di Laboratorium Ecoton.(rmt)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan