RADAR SURABAYA - Kasus kesehatan mental di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir terus meningkat dan kini menjadi sorotan serius. Prevalensi gangguan jiwa seperti depresi, kecemasan, hingga skizofrenia tercatat cukup tinggi di masyarakat.
Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Psikolog Klinis (IPK) Indonesia periode 2025–2029, Dr. Retno Kumolohadi, S.Psi., M.Si., Psikolog, menegaskan bahwa kondisi ini sudah masuk kategori darurat.
Ia merujuk pada hasil survei Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) tahun 2022 yang menunjukkan 15,5 juta remaja atau 34,9 persen mengalami masalah kesehatan mental.
“Kita sangat tahu bahwa prevalensi masalah dan gangguan jiwa itu sangat tinggi di Indonesia dan bisa dikatakan kita darurat. Sehingga perlunya penanganan yang lebih serius,” kata Retno dikutip, Senin (24/11).
Selain tingginya angka depresi dan kecemasan, Retno juga menyoroti meningkatnya kasus bunuh diri di Indonesia.
Menurutnya, salah satu langkah strategis yang harus dilakukan adalah memperkuat sistem layanan kesehatan mental nasional.
“Menjadikan kesehatan jiwa sebagai pilar utama ketahanan bangsa serta mendukung percepatan pembangunan sumber daya manusia Indonesia yang unggul dan andal,” ujarnya.
Retno menekankan pentingnya pemerataan akses layanan psikolog klinis di seluruh pelosok negeri.
Ia berharap kuota psikolog klinis di Puskesmas segera terpenuhi agar masyarakat bisa mendapatkan layanan promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif, hingga paliatif secara adil dan inklusif.
Selain itu, IPK juga mendorong pengembangan pendidikan profesi psikolog klinis dengan kurikulum transformatif yang sesuai kebutuhan masyarakat dan standar kompetensi.
Retno menambahkan, meski banyak Gen Z mencoba berkonsultasi menggunakan teknologi kecerdasan buatan, layanan psikolog klinis tetap tidak tergantikan.
“Mereka mungkin mencoba AI dulu, tapi mereka mengaku tidak cukup. AI tidak bisa menggantikan psikolog klinis. Pada akhirnya mereka tetap kembali ke kami,” pungkasnya.
Dengan tingginya prevalensi gangguan mental di Indonesia, perlu langkah serius memperkuat layanan kesehatan jiwa nasional.
Pemerataan akses psikolog klinis, pengembangan pendidikan profesi, serta kebijakan yang inklusif diharapkan mampu menekan angka depresi, kecemasan, dan bunuh diri.
Retno menekankan bahwa kesehatan mental harus menjadi pilar utama ketahanan bangsa demi terciptanya generasi Indonesia yang unggul dan berdaya saing. (net/nur)
Editor : Nurista Purnamasari