RADAR SURABAYA – Utusan Khusus Presiden Bidang Pariwisata, Zita Anjani, menegaskan bahwa pemulihan wisata Gunung Semeru pascaerupsi harus menjadi momentum untuk menata ulang kawasan wisata dengan mengedepankan pelestarian alam serta nilai-nilai budaya lokal.
Menurut Zita, Gunung Semeru bukan hanya sekadar bentang geografis, melainkan ikon wisata alam Indonesia yang sudah dikenal dunia. Hal itu disampaikannya saat melakukan peninjauan di sejumlah titik terdampak di Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang, Minggu 23 November 2025.
Rombongan mengawali peninjauan dari SD Negeri 04 Supiturang, salah satu lokasi utama pengungsian warga. Di tempat ini, unsur TNI bersama berbagai instansi mengecek ketersediaan layanan kesehatan, logistik harian, perlindungan kelompok rentan, serta kesiapan fasilitas pengungsian. Personel di lapangan juga turut menjaga keamanan wilayah, membantu mobilitas warga, dan memastikan jalur evakuasi tertata dengan baik.
Sebagai bentuk dukungan kemanusiaan, telah disalurkan 19 jenis bantuan, mulai dari selimut, kebutuhan balita, pakaian anak, perlengkapan mandi, hingga sembako dan kebutuhan dasar lainnya.
Setelah meninjau pengungsian, rombongan bergerak menuju Dusun Sumbersari, Desa Supiturang, salah satu kawasan yang terdampak paling berat oleh material vulkanik. Zita menyampaikan bahwa dalam proses pemulihan, keaslian budaya masyarakat di lereng Semeru harus tetap dijaga.
Tradisi lokal, kearifan lingkungan, dan pola hidup masyarakat menjadi bagian penting dalam membangun kembali kawasan wisata.
Ia menekankan bahwa pemulihan tidak boleh hanya berfokus pada infrastruktur fisik. Konservasi lingkungan, terutama jalur pendakian, kawasan rawan bencana, hingga daerah penyangga harus mendapat perhatian serius. Daya dukung wisata juga menjadi fokus, mencakup pembenahan akses, jalur evakuasi, dan fasilitas penunjang yang aman bagi wisatawan.
Selain itu, keberlanjutan komunitas wisata lokal menjadi perhatian. Pelibatan porter, pemandu, UMKM, dan para penggerak pariwisata dinilai penting agar pemulihan tidak hanya memperbaiki kondisi pascaerupsi, tetapi juga meningkatkan kapasitas masyarakat dalam mengelola wisata secara berkelanjutan.
Zita menambahkan bahwa substansi kebijakan ini menempatkan bencana bukan semata ancaman, melainkan kesempatan untuk menata tata kelola wisata agar lebih aman dan berkelanjutan. Perhatian Presiden terhadap aspek sosial dan budaya menjadi penegasan bahwa pemulihan Semeru harus menyentuh keseimbangan antara fisik, lingkungan, serta nilai-nilai kearifan lokal. (*)
Editor : Lambertus Hurek