RADAR SURABAYA – Perguruan tinggi di Indonesia dinilai masih terlalu fokus mengejar peringkat dan inovasi, tetapi belum memberikan dampak nyata bagi masyarakat sekitar kampus.
Kritik tersebut disampaikan Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) ITS, Prof. Dr. Ir. Mohammad Nuh, DEA, dalam Konferensi Puncak Perguruan Tinggi Indonesia (KPPTI) di Universitas Negeri Surabaya (Unesa).
Prof. Nuh menyoroti masih banyak warga miskin yang hidup berdampingan dengan area kampus, termasuk anak-anak yang belum mendapatkan akses pendidikan berkualitas.
Menurut dia, program pengabdian masyarakat masih sering diperlakukan sebagai agenda seremonial tanpa efek jangka panjang.
“Tri Dharma belum berjalan terintegrasi. Pengabdian masyarakat sering hanya menjadi syarat tanpa arah yang jelas. Muaranya harus kembali kepada masyarakat dan dampaknya harus nyata,” ujarnya.
Ia juga menilai sejumlah kampus lebih bangga menampilkan banyaknya fasilitas atau jumlah dosen, tanpa menilai sejauh mana lulusan maupun kegiatan kampus memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Lulusan cumlaude itu output. Pertanyaannya, apa manfaatnya bagi masyarakat?” katanya.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Prof. Nuh memperkenalkan kerangka Commitment to Impactful Transformation in Society (COMMITS) sebagai alat evaluasi perguruan tinggi dalam mengukur dampak sosial. Kerangka ini memuat lima klaster utama, yaitu:
1. Penguatan ekonomi dan sosial komunitas.
2. Perluasan akses pendidikan.
3. Pemanfaatan inovasi untuk penyelesaian masalah masyarakat.
4. Kontribusi terhadap keberlanjutan lingkungan.
5. Keterlibatan dalam penanganan bencana nasional.
Ia menegaskan bahwa COMMITS merupakan upaya mengembalikan esensi Tri Dharma agar pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat tidak berjalan masing-masing.
“Perguruan tinggi merupakan agen perubahan sosial,” pungkasnya.(rmt)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan