RADAR SURABAYA - Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Pangandaran mengungkap adanya sejumlah siswa SMP yang terindikasi HIV/AIDS.
Temuan ini muncul setelah pemeriksaan kesehatan dilakukan oleh Puskesmas di wilayah Kecamatan Padaherang dan Mangunjaya. Kepala Disdikpora Pangandaran, Soleh Supriadi, membenarkan adanya laporan tersebut.
“Kabarnya ada siswa setelah dilakukan pemeriksaan kesehatan oleh Puskesmas terindikasi HIV/AIDS,” ujarnya dikutip, Kamis (20/11).
Menurut Soleh, data lengkap siswa yang terjangkit berada di Dinas Kesehatan. Ia menilai fenomena ini tidak lepas dari pengaruh media sosial terhadap perilaku remaja.
“Kami di dinas pendidikan sangat konsen menjaga perilaku budaya dan karakter peserta didik, baik di tingkat sekolah dasar maupun menengah,” tambahnya.
Soleh menyebut kondisi ini diduga sudah terjadi sejak lama, namun mulai terindikasi meningkat dalam dua bulan terakhir.
Pihaknya telah berkoordinasi dengan Puskesmas, organisasi wilayah, K3S, MKKS, dan PGRI untuk mengantisipasi penyebaran HIV/AIDS di kalangan pelajar.
“Kami menyatakan perang terhadap penyebaran HIV/AIDS, terutama di kalangan siswa. Ini bentuk perlindungan dari Disdikpora terhadap peserta didik,” tegasnya.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Pangandaran, dr. Rina Veriany, menyebutkan terdapat 35 kasus positif HIV/AIDS sepanjang Januari hingga September 2025.
“Semua kasus HIV paling banyak diderita kelompok berisiko. Data tahun ini baru sampai September, dan masih banyak temuan dari tahun lalu,” jelasnya.
Rina menegaskan bahwa penularan HIV/AIDS umumnya terjadi melalui hubungan seksual berisiko, terutama pada individu yang sering berganti pasangan, serta melalui paparan darah.
Ia menambahkan, pihaknya terus melakukan edukasi dan sosialisasi pencegahan di sekolah-sekolah.
Kasus HIV/AIDS yang menimpa sejumlah siswa SMP di Pangandaran menjadi perhatian serius pemerintah daerah.
Disdikpora bersama Dinas Kesehatan berkomitmen memperkuat edukasi dan pencegahan di lingkungan sekolah.
“Fenomena ini harus diantisipasi dengan kolaborasi lintas sektor agar siswa terlindungi dari perilaku berisiko,” pungkas Soleh Supriadi. (dtk/nur)
Editor : Nurista Purnamasari