Jelang Musorkot, Acara Tertutup Calon Ketua KONI Surabaya Jadi Sorotan: Nama Resmi Dipakai, Cabor Protes!
Rahmat Adhy Kurniawan• Kamis, 20 November 2025 | 16:32 WIB
Erie Hartanti dalam acara table talk persiapan Musorkot KONI Surabaya.
RADAR SURABAYA– Menjelang Musyawarah Olahraga Kota (Musorkot) KONI Surabaya 2025, suasana mulai memanas.
Salah satu bakal calon Ketua KONI Surabaya periode 2025–2029, Erie Hartanti, menggelar pertemuan tertutup bertajuk Table Talk bersama sejumlah cabor pendukungnya di salah satu hotel Surabaya, Rabu (19/11/2025).
Yang menghebohkan, acara privat ini menggunakan nama resmi KONI Kota Surabaya pada papan agenda hotel, seolah kegiatan tersebut adalah acara resmi organisasi.
Media yang mencoba meliput justru dilarang masuk karena acara ini bukan untuk umum.
Seusai acara, Erie menolak diwawancara dan buru-buru masuk lift sambil berkata, “Nanti ya, Mas. Diatur sama bidang media,” sebelum pintu lift tertutup.
Langkah ini memicu pertanyaan dari sejumlah cabor yang tidak diundang, yang menilai ada upaya memanfaatkan nama KONI untuk kepentingan kandidat tertentu.
Ketua IMI Kota Surabaya, Rinto Ari Rakhmanto, mengaku terkejut melihat foto papan bertuliskan KONI Kota Surabaya yang tersebar di WhatsApp.
“Kalau itu acara KONI, kenapa hanya cabor pendukung yang diundang? Kalau itu acaranya salah satu calon, kenapa pakai nama KONI Surabaya?” ujarnya.
Photo
Ketua Muaythai Indonesia (MI) Surabaya, Hendri Lianto, menegaskan, “Kalau benar atas nama KONI Surabaya, ini pelanggaran. Jangan karena mereka pengurus lama, KONI seakan milik orang tertentu. KONI itu rumah semua cabor.”
Kejanggalan Lain Jelang Musorkot
Selain itu, kepengurusan KONI Surabaya dinilai tidak transparan terkait tahapan Musorkot. Dalam undangan resmi, waktu dan lokasi pelaksanaan tidak dicantumkan, distribusi materi
terlambat, dan informasi terkait tahapan serta agenda pemilihan minim. Hal ini memicu pertanyaan soal profesionalisme panitia.
Situasi ini membuat dinamika pemilihan Ketua KONI Surabaya 2025–2029 semakin panas, dengan sorotan besar pada netralitas dan transparansi penyelenggara.