Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Bullying Berujung Kematian di SMPN 19 Tangsel, Terduga Pelaku Minta Pindah ke Pesantren

Nurista Purnamasari • Kamis, 20 November 2025 | 03:20 WIB
SMP Negeri 19 Tangerang Selatan tempat MH mengalami perundungan hingga akhirnya meninggal dunia.
SMP Negeri 19 Tangerang Selatan tempat MH mengalami perundungan hingga akhirnya meninggal dunia.

RADAR SURABAYA - Kasus perundungan di SMP Negeri 19 Tangerang Selatan (Tangsel) yang menewaskan seorang siswa berinisial MH, 13, terus menjadi sorotan publik.

R, 13, terduga pelaku bullying, kini disebut mengalami tekanan psikologis berat setelah fotonya tersebar dan viral di media sosial.

Pihak sekolah bersama dinas terkait memastikan hak pendidikan R tetap terpenuhi, meski kasus ini masih dalam proses penyelidikan oleh Polres Tangsel.

Kepala SMPN 19 Tangsel, Frida Tesalonik, mengungkapkan pihak sekolah telah mendatangi rumah keluarga R untuk meninjau kondisi emosionalnya.

“Kondisinya juga lagi tertekan dan kami tidak ingin membebani dia dulu dalam waktu dekat ini,” ujarnya dikutip, Rabu (19/11).

Frida menambahkan, R sempat menyampaikan keinginan pindah sekolah atau masuk pesantren kepada guru pendamping.

“Ada keinginan kalau dia mau masuk pesantren. Tapi itu baru disampaikan ke guru, saya belum menggali lebih jauh dan sambil menunggu keputusan KPAI,” jelasnya.

Kepala Dinas Pendidikan Tangsel, Deden Deni, menegaskan bahwa R mendapat pendampingan psikologis dari DP3KB, UPTD Satgas, dan UPTD PPA.

“Kondisinya dalam tekanan juga. Dia sudah didampingi secara psikologis untuk memastikan tetap bisa menjalani proses belajar,” katanya.

Untuk sementara, kegiatan belajar R dilakukan secara daring menyesuaikan kondisi psikologisnya.

“Anak dikasih pilihan mau sekolah atau tidak, karena kondisinya masih dalam tekanan jadi secara online,” tambah Deden.

Frida membantah anggapan bahwa sekolah tidak peduli terhadap kasus bullying ini. Ia menegaskan pihak sekolah aktif mengikuti perkembangan korban sejak awal.

“Kami datang ke rumah almarhum, juga ke Rumah Sakit Fatmawati. Guru dan beberapa siswa ikut menjenguk,” ujarnya.

Sekolah juga memastikan telah menjalankan SOP, termasuk membuat surat pernyataan tanggung jawab dari pihak pelaku dan melaporkan proses ke Dinas Pendidikan.

“Pendidikan itu harus selalu diperbarui. Kami evaluasi agar kejadian seperti ini tidak terulang, meskipun kronologi sebenarnya masih ditangani penyidik,” kata Frida.

MH diketahui mengalami perundungan sejak masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) pada Juli 2025.

Ibunda korban, Y, 38, mengungkapkan anaknya kerap ditendang, dipukul, hingga ditusuk dengan sedotan oleh teman sekelasnya.

Puncak kejadian terjadi pada 20 Oktober 2025, ketika MH mengaku dipukul dengan kursi besi hingga mengalami benjol di kepala.

“Awalnya pas MPLS sudah kena juga dia, ditabokin sampai tiga kali. Kalau lagi belajar ditendang lengannya, punggungnya dipukul,” kata Y.

MH sempat dirawat di RSUP Fatmawati sejak 9 November 2025, namun kondisinya memburuk hingga dipindahkan ke ICU. Ia akhirnya meninggal dunia pada Minggu (16/11).

Keluarga korban mengaku sempat mendapat janji tanggung jawab dari pihak pelaku, namun kemudian lepas tangan saat MH dirawat di rumah sakit.

“Awalnya pihak pelaku mau tanggung jawab penuh. Tapi waktu korban dibawa ke RS Fatmawati, keluarga pelaku malah lepas tangan, sampai nyuruh orang tua korban cari pinjaman uang sendiri,” ujar RF, 29, kakak sepupu korban. (trn/nur)

Editor : Nurista Purnamasari
#Pesantren #pelaku bullying #Siswa Meninggal Dunia #tangerang selatan #bullying #SMPN 19 Tangsel #tekanan psikologis