RADAR SURABAYA — Pemerataan dokter gigi di Indonesia masih menjadi tantangan besar. Data Kementerian Kesehatan RI mencatat keluhan gigi dan mulut masih menempati posisi teratas di semua kelompok usia, sementara akses layanan kesehatan gigi belum merata.
Penyakit gusi menjadi masalah terbesar kedua setelah gigi berlubang, namun masih sering diabaikan masyarakat.
Dekan Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Airlangga, Prof. Dr. Muhammad Luthfi, drg., M.Kes., menyebutkan bahwa sekitar
6.000 puskesmas di Indonesia belum memiliki dokter gigi. Kondisi ini terjadi akibat distribusi tenaga kesehatan yang tidak seimbang.
“Dokter gigi lebih banyak terkonsentrasi di perkotaan dan mayoritas perempuan. Ini membuat pemerataan, terutama ke daerah 3T, menjadi tantangan tersendiri,” ujar Prof. Luthfi, Selasa (18/11).
Menurutnya, standar ideal adalah 1 dokter gigi untuk 7.500 penduduk, sesuai rekomendasi WHO.
Pemerintah Diminta Percepat Pemerataan Dokter Gigi
Prof. Luthfi menilai pemerintah perlu mempercepat pembangunan Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) baru dan memperkuat distribusi tenaga kesehatan agar layanan
kesehatan gigi dapat menjangkau seluruh daerah, terutama wilayah terpencil, tertinggal, dan terdepan (3T).
Kasus Karang Gigi Masih Mendominasi, Masyarakat Bergeser ke Estetika
Direktur Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM) Universitas Airlangga, Prof. Dr. Agung Krismariono, drg., M.Kes., Sp.Perio(K), mengatakan bahwa kasus pembersihan karang
gigi masih menjadi yang terbanyak sejak 2011. Namun ia melihat tren baru: masyarakat kini semakin sadar terhadap estetika gigi.
“Sekarang banyak pasien datang untuk layanan estetika. Ada pergeseran dari penanganan penyakit infeksi menuju perawatan estetika,” ujarnya.
Upaya Promotif dan Preventif Terus Didorong
Pemerintah terus memperkuat edukasi kesehatan gigi melalui berbagai program, termasuk peringatan Hari Kesehatan Gigi Nasional (HKGN) dengan tema Gigi dan Gusi Sehat, Senyum Indonesia Hebat.(rmt)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan