RADAR SURABAYA - Bencana tanah longsor melanda Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, Kamis (13/11) malam. Peristiwa yang dipicu hujan deras ini menimbun rumah warga di tiga desa, yakni Dusun Cibeunying, Cibaduyut, dan Tarakan. Hingga Jumat (14/11), tercatat tiga orang meninggal dan 20 orang masih hilang.
Sebanyak 200 personel Basarnas bersama tim gabungan dari BPBD, Tagana, PMI, TNI, Polri, relawan, dan masyarakat setempat dikerahkan untuk melakukan pencarian dan pertolongan.
Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto menegaskan pencarian korban menjadi prioritas utama. “Kurang lebih ada 200 personel. Semoga seluruh masyarakat yang hilang dapat segera ditemukan. Kami datangkan alat berat, pompa alkon, dan memastikan kebutuhan dasar warga tercukupi,” ujarnya.
Menurut laporan Pusat Pengendali dan Operasi (Pusdalops) BNPB, hingga Jumat siang tercatat tiga korban meninggal dunia, 20 orang masih dalam pencarian, dan 23 warga selamat namun berada di wilayah rawan bencana.
Korban tewas telah dibawa ke RS Majenang, sementara warga selamat mengungsi ke rumah kerabat.
Kerugian material meliputi 12 rumah rusak berat dan 16 rumah terancam longsor. Kondisi cuaca, tanah labil, serta minimnya penerangan menjadi tantangan besar bagi tim SAR.
“Atas arahan Presiden Prabowo Subianto, kami langsung berangkat ke lokasi. Ada 28 rumah yang harus direlokasi, dan pemerintah daerah sudah menyiapkan lahan aman untuk warga,” kata Suharyanto.
Ia juga mengimbau masyarakat di sekitar lokasi agar mengosongkan area rawan longsor demi keselamatan.
“Kita ungsikan dulu yang berada di titik-titik rawan supaya meninggalkan rumah, jangan sampai ada longsor susulan yang mengakibatkan korban tambahan,” tambahnya.
BNPB menegaskan bahwa operasi SAR akan terus dilanjutkan meski terkendala cuaca dan kondisi tanah.
“Kami optimis seluruh korban dapat segera ditemukan dan warga bisa direlokasi ke tempat yang lebih aman,” tutup Suharyanto. (dtk/nur)
Editor : Nurista Purnamasari