Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Inilah 10 Pahlawan Nasional Baru 2025, Ada Gus Dur hingga Marsinah

Nurista Purnamasari • Senin, 10 November 2025 | 19:20 WIB

Penganugerahan 10 Pahlawan Nasional Baru 2025.
Penganugerahan 10 Pahlawan Nasional Baru 2025.

RADAR SURABAYA - Bertepatan dengan Hari Pahlawan 10 November 2025, Presiden Prabowo Subianto resmi menetapkan 10 tokoh bangsa sebagai Pahlawan Nasional baru.

Penganugerahan ini menjadi bentuk penghormatan negara atas jasa besar mereka dalam memperjuangkan kemerdekaan, membangun demokrasi, serta membela hak-hak rakyat.

Penetapan dilakukan melalui sidang Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan (GTK) setelah melalui proses panjang dari tingkat daerah hingga Kementerian Sosial.

Menurut Menteri Sosial Syaifullah Yusuf, penetapan gelar Pahlawan Nasional tahun ini merupakan hasil seleksi dari 49 nama yang diusulkan, dengan 10 tokoh akhirnya ditetapkan.

“Nama-nama tersebut berasal dari berbagai latar belakang presiden, tokoh demokrasi, aktivis buruh, hingga pejuang daerah,” jelas laki-laki yang akrab disapa Gus Ipul tersebut.

Profil Singkat 10 Pahlawan Nasional Baru 2025

1. Abdurrahman Wahid (Jawa Timur)

Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur, lahir di Jombang, Jawa Timur, 7 September 1940 dan wafat di Jakarta, 30 Desember 2009 pada usia 69 tahun.

Beliau adalah tokoh Muslim Indonesia dan pemimpin politik yang menjadi Presiden Indonesia keempat dari tahun 1999 hingga 2001 menggantikan Presiden B.J. Habibie.

Masa kepresidenan Abdurrahman Wahid dimulai pada 20 Oktober 1999 dan berakhir pada Sidang Istimewa MPR pada tahun 2001. Beliau adalah mantan ketua Tanfidziyah (badan eksekutif) Nahdlatul Ulama (NU) dan pendiri Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Beliau dikenal sebagai sosok yang unik karena dalam dirinya melekat berbagai predikat, baik sebagai pemimpin ormas terbesar, pejuang demokrasi, tokoh intelektual papan atas, tokoh LSM, tokoh pluralisme, maupun sebagai tokoh agama (kiai).

2. Jenderal Besar TNI Soeharto (Jawa Tengah)

Menurut situs ANRI, Jenderal Besar TNI (Purn) Soeharto adalah Presiden kedua Republik Indonesia. Dia lahir di Kemusuk, Yogyakarta, tanggal 8 Juni 1921 dari pasangan Kertosudiro dan Sukirah.

Dia resmi menjadi anggota TNI pada 5 Oktober 1945. Di kemiliteran, Soeharto memulainya dari pangkat sersan tentara KNIL, kemudian komandan PETA, komandan resimen dengan pangkat Mayor dan komandan batalyon berpangkat Letnan Kolonel.

Pada tahun 1949, dia berhasil memimpin pasukannya merebut kembali kota Yogyakarta dari tangan penjajah Belanda saat itu. Beliau juga pernah menjadi Pengawal Panglima Besar Sudirman serta menjadi Panglima Mandala (pembebasan Irian Barat).

Soeharto merupakan presiden ke-2 RI dari tahun 1967 hingga 1998. Dia dikenal sebagai tokoh pembangunan dengan program swasembada pangan dan stabilitas politik. Soeharto meninggal dunia pada Minggu, 27 Januari 2006 dalam usia 87 tahun.

Baca Juga: Terekam CCTV Curi Motor di Parkiran Rumah Makan Lidah Wetan Surabaya, Pria Asal Probolinggo Ditangkap

3. Marsinah (Jawa Timur)

Marsinah lahir pada 10 April 1969 di Nglundo, Nganjuk, Jawa Timur. Pada 1989, Ia merantau ke Surabaya untuk bekerja di pabrik plastik SKW di Kawasan Industri Rungkut, lalu sempat bekerja di sebuah perusahaan pengemasan barang hingga akhirnya berpindah ke Sidoarjo dan bekerja di PT CPS pada 1990.

Selama bekerja di PT CPS, Marsinah adalah sosok yang vokal dalam memperjuangkan nasib dan hak dari rekan-rekannya. Ia juga terlibat dalam kegiatan aktivis organisasi buruh Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) unit kerja PT CPS.

Tragedi keji yang menimpa Marsinah berawal dari unjuk rasa dan pemogokan kerja yang dilakukan oleh Marsinah dan rekannya pada 3-4 Mei 1993. Saat unjuk rasa, mereka mengajukan 12 tuntutan.

Setelah itu, pada tanggal 5 Mei 1993, Marsinah hilang tanpa kabar setelah mengunjungi rumah rekannya. Lalu, pada 8 Mei 1993, jasad Marsinah ditemukan dengan kondisi yang mengenaskan.

4. Mochtar Kusumaatmadja (Jawa Barat)

Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja, S.H., LL.M. lahir di Jakarta pada 17 Februari 1929. Setelah tamat SMA, Mochtar Kusumaatmadja melanjutkan sekolah ke Fakultas Hukum Universitas Indonesia, dan setelah menyelesaikan jenjang sarjananya, pada 1956, Prof. Mochtar Kusumaatmadja melanjutkan pendidikannya di Universitas Yale, Amerika Serikat.

Gelar doktornya diperoleh dari Universitas Padjadjaran pada tahun 1962. Pada tahun 1964, Prof. Mochtar Kusumaatmadja melanjutkan pendidikannya (post doctor) di Harvard Law School, Amerika Serikat. Setelahnya, Prof. Mochtar Kusumaatmadja menempuh pendidikan di University of Chicago. Pada 1970, Prof. Mochtar Kusumaatmadja mendapat gelar profesor dari Unpad.

Mochtar pernah menjabat sebagai Menteri Kehakiman dari tahun 1974 sampai 1978, dan Menteri Luar Negeri dua periode dari tahun 1978 sampai 1988. Ia kerap mewakili Indonesia di PBB dan perundingan-perundingan internasional, terutama mengenai batas darat dan batas laut teritorial.

5. Hajjah Rahmah El Yunusiyah (Sumatera Barat)

Rahmah El Yunusiyah yang lahir pada tahun 1900 merupakan pendiri Perguruan Diniyah Putri. Rahmah menggagas lahirnya madrasah Perguruan Diniyah Putri Padang Panjang pada 1 November 1923 dilatarbelakangi cita-cita dan kepedulian untuk mengangkat harkat dan derajat kaum perempuan.

Di masa revolusi mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia tahun 1945, Rahmah terjun ke medan perjuangan fisik. Ia menjadi Bundo Kanduang dari barisan Sabilillah dan Hizbullah di Sumatera Barat. Dalam masa revolusi kemerdekaan, Perguruan Diniyah Putri memberikan andil perjuangan dengan sarana yang dimilikinya untuk mendukung perjuangan kemerdekaan bangsa.

Rektor Universitas Al-Azhar Cairo Dr. Syekh Abdurrahman Taj di tahun 1955 mengunjungi Indonesia dan meninjau Diniyah Putri Padang Panjang. Pemimpin tertinggi Al-Azhar itu terkesan dengan pendidikan Diniyah Putri. Di Mesir, belum ada sekolah khusus untuk perempuan.

Baca Juga: Ramalan Zodiak 10 November 2025: Rezeki Mengalir untuk Capricorn, Cinta Bersemi bagi Leo dan Pisces!

6. Jenderal TNI (Purn) Sarwo Edhie Wibowo (Jawa Tengah)

Jenderal TNI (Purn) Sarwo Edhie Wibowo merupakan tokoh militer Indonesia. Ia pernah menjabat sebagai Komandan Resimen Komando Angkatan Darat atau RPKAD (sekarang Kopassus) di tahun 1965 dan Gubernur Akademi Militer di tahun 1970.

Sarwo Edhie Wibowo merupakan ayah dari Ani Yudhoyono (istri Susilo Bambang Yudhoyono) sekaligus kakek dari Agus Harimurti Yudhoyono dan Edhie Baskoro Yudhoyono.

7. Sultan Muhammad Salahuddin (NTB)

Sultan Muhammad Salahuddin (1888-1951 M) merupakan sultan Bima ke-XIV yang memerintah sekitar tahun 1915 sampai 1951. Ia dikenal dengan perjuangannya menentang penjajahan Belanda di Bima. Sultan Muhammad Salahuddin merupakan sosok pemimpin yang bijaksana, pejuang kemerdekaan, dan teladan bagi generasi bangsa.

8. Syaikhona Muhammad Kholil (Jawa Timur)

Syaikhona Muhammad Kholil (1820-1925 M),dikenal sebagai guru dari banyak ulama besar, termasuk pendiri Nahdlatul Ulama KH. Muhammad Hasyim Asy'ari. Sebelum berangkat ke Makkah, beliau menguasai seperangkat ilmu Islam, seperti Nahwu dan gramatika bahasa, hafal Alquran, dan sebagainya. Saat di Makkah, Syaikhona mendalami qira'at sab'ah (Alquran dengan tujuh macam bacaan).

Tak ada yang meragukan kharisma dan konstribusinya di dunia pesantren, terlebih untuk Indonesia. Sebab beliau ikut andil melahirkan tokoh-tokoh ulama yang juga pahlawan nasional, seperti Hadratussyekh KH M. Hasyim Asy'ari, KHR As'ad Syamsul Arifin, KH Abdul Wahab Chasbullah.

9. Tuan Rondahaim Saragih (Sumatera Utara)

Tuan Rondahaim Saragih Garingging atau Tuan Rondahaim merupakan sosok pejuang asal Kerajaan Raya, Simalungun, Sumatera Utara (dahulu Pantai Timur Sumatera). Masa perjuangannya terentang dari 1880 hingga 1891.

Awal keterlibatannya dalam perang melawan kolonialisme Belanda, adalah ketika mengetahui pemerintah Belanda membuka perkebunan secara sepihak di wilayah yang dihuni orang Simalungun.

Ketatnya pertahanan yang digalang Tuan Rondahaim serta tangguhnya pasukan Raya, membuat Belanda memutuskan untuk mengundurkan diri dari usaha menundukkan raja-raja Simalungun. Tuan Rondahaim pun berhasil mengamankan wilayahnya sampai dengan akhir hayatnya. Ia wafat pada tahun 1891.

Baca Juga: Antisipasi Kejahatan Jalanan, Polres Tanjung Perak Gelar Patroli Cipkon di Surabaya

10. Zainal Abidin Syah (Maluku Utara)

Sultan Zainal Abidin Syah lahir di Soa-Sio, Tidore, pada 15 Agustus 1912. Ia diangkat menjadi Gubernur Irian Barat pertama (sekarang Papua dan Papua Barat) yang menjabat pada tahun 1956-1961.

Penganugerahan pahlawan nasional terhadap tokoh-tokoh yang dipilih merupakan bentuk penghargaan negara terhadap tokoh yang telah berjuang untuk negara bagi kepentingan banyak orang. Mereka juga berkontribusi besar pada bidangnya masing-masing. (nur)

Editor : Nurista Purnamasari
#pahlawan nasional baru #hari pahlawan #soeharto #marsinah #gus dur #pahlawan nasional