RADAR SURABAYA - Kementerian Sosial (Kemensos) bersama Badan Pusat Statistik (BPS) merilis hasil verifikasi dan validasi terbaru penerima bantuan sosial (bansos).
Dari pemutakhiran data, sebanyak 4,2 juta keluarga penerima manfaat (KPM) baru dinyatakan tidak layak menerima bantuan karena kondisi ekonomi mereka sudah membaik.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf menyebutkan, dari total 18,7 juta KPM baru BLTS desil 1–4, sebanyak 16,8 juta telah diverifikasi.
Hasilnya, 12,6 juta keluarga layak menerima bansos, sementara 4,2 juta tidak layak, dan sisanya 1,9 juta masih dalam proses verifikasi.
Kemensos memprioritaskan penerima KPM baru yakni lansia tunggal, penyandang disabilitas, keluarga tanpa rumah layak huni.
“Data ini penting agar bantuan benar-benar tepat sasaran,” ujar Gus Ipul di Gedung Kemensos, Jakarta Pusat, Jumat (7/11).
Laki-laki yang akrab disapa Gus Ipul ini menjelaskan bahwa data 4,2 juta KPM yang tidak layak berasal dari Data Terpadu Kesejahteraan Sosial Nasional (DTSEN). Proses verifikasi dilakukan melalui ground check untuk memastikan kondisi riil penerima.
“Ini kesempatan pertama kami turun langsung melakukan ground check agar data bansos lebih akurat,” jelasnya.
Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, menambahkan bahwa sebagian KPM dinyatakan tidak layak karena kondisi ekonomi mereka sudah membaik.
“Ada penerima yang sebelumnya masuk desil 1–4, tetapi kini sudah memiliki pekerjaan baru atau tempat tinggal yang lebih layak. Dalam kondisi nyata, mereka tidak lagi berhak menerima bantuan,” ujarnya.
Amalia menegaskan bahwa penerima yang tidak layak akan digantikan oleh kelompok masyarakat lain yang lebih membutuhkan, seperti lansia tunggal, penyandang disabilitas, dan keluarga yang tinggal di rumah tidak layak huni.
Dengan hasil verifikasi terbaru, pemerintah menegaskan komitmen untuk memastikan bansos lebih tepat sasaran.
Sebanyak 4,2 juta keluarga yang tidak layak akan digantikan oleh kelompok masyarakat rentan yang benar-benar membutuhkan.
“Semakin akurat data penerima, semakin besar peluang bansos menjadi instrumen efektif dalam mengurangi kemiskinan,” tutup Gus Ipul. (dtk/nur)
Editor : Nurista Purnamasari