Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Piala Dunia 2026 Selebriti Sidoarjo Surabaya Surabayapedia Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Krisis Disiplin Hantui Persebaya Surabaya: Empat Pemain Kena Kartu Merah, Perez Jadi Sorotan

Rahmat Adhy Kurniawan • Sabtu, 8 November 2025 | 12:16 WIB

Disiplin pemain di lapangan juga menjadi masalah Persebaya.
Disiplin pemain di lapangan juga menjadi masalah Persebaya.

Persebaya Surabaya Terjebak Masalah Disiplin

RADAR SURABAYA - Persebaya Surabaya tengah menjadi sorotan tajam setelah rentetan kartu merah yang menimpa pemain mereka dalam beberapa pertandingan terakhir BRI Super League 2025/2026.

Kondisi ini membuat Green Force kehilangan banyak poin penting dan sulit menjaga konsistensi permainan.

Dalam lima laga terakhir, empat pemain Persebaya sudah diganjar kartu merah: Francisco Rivera, Dejan Tumbas, Leo Lelis, dan Mikael Tata.

Akibatnya, tim asuhan Eduardo Perez kerap harus bermain dengan jumlah pemain lebih sedikit dan kehilangan keseimbangan taktik di lapangan.

Bahkan, dalam laga kontra PSBS Biak, Persebaya sempat bermain hanya dengan sembilan pemain — situasi yang jarang terjadi di level profesional.

Francisco Rivera Jadi Korban Terbaru

Kartu merah terbaru menimpa Francisco Rivera saat menghadapi Persik Kediri pada 7 November 2025.

Gelandang asal Meksiko itu diusir wasit karena pelanggaran keras, dan kini harus absen di laga panas kontra Arema FC.

Absennya Rivera menjadi kerugian besar bagi Persebaya karena ia merupakan motor serangan utama tim. Dalam beberapa laga terakhir, kontribusinya dalam membangun serangan dan mengatur tempo permainan sangat vital.

Dampak Serius bagi Performa Tim

Masalah disiplin ini berdampak langsung pada performa Persebaya Surabaya:

Kehilangan pemain inti: Absennya Rivera, Tumbas, Lelis, dan Tata membuat formasi tim kacau dan rotasi pemain menjadi terbatas.

Krisis pemain: Menjelang duel kontra Persis Solo, Green Force disebut mengalami krisis pemain akibat banyaknya hukuman kartu merah.

Hasil pertandingan terganggu: Dalam laga melawan Persik, meski sempat unggul, Persebaya harus puas bermain imbang 1–1 bermain 10 orang Persebaya sulit menambah gol. 

Dengan kondisi seperti ini, langkah Persebaya untuk kembali ke papan atas klasemen semakin berat.

Kritik untuk Eduardo Perez 

Fenomena kartu merah beruntun memicu gelombang kritik dari Bonek dan pecinta Persebaya di media sosial.

Banyak yang menilai pelatih Eduardo Perez gagal menanamkan disiplin dan kontrol emosi kepada para pemainnya.

Komentar pedas membanjiri akun resmi klub, menuntut evaluasi menyeluruh terhadap strategi pelatih dan manajemen tim. Beberapa suporter bahkan menyebut bahwa masalah ini sudah menjadi “penyakit lama” yang belum juga diselesaikan.

Langkah Perbaikan Masih Belum Efektif

Sebenarnya, manajemen Persebaya sudah mencoba melakukan langkah perbaikan. Pada musim sebelumnya, mereka sempat menggandeng Dinas Psikologi Angkatan Laut (Dispsial) untuk membantu pemain dalam mengontrol emosi dan menjaga fokus di lapangan.

Namun, kenyataan di musim ini menunjukkan bahwa upaya tersebut belum berjalan efektif. Insiden kartu merah masih terus berulang, dan dampaknya semakin terasa pada hasil pertandingan.

Ancaman Kehilangan Momentum di Super League

Jika tidak segera dibenahi, Persebaya berisiko kehilangan momentum di Super League 2025/2026.
Hukuman kartu merah tidak hanya merugikan di satu pertandingan, tetapi juga berpengaruh pada absennya pemain kunci di laga-laga berikutnya.

Konsistensi menjadi kunci utama bagi Green Force jika ingin kembali ke jalur kemenangan dan bersaing di papan atas klasemen.

Persebaya Surabaya kini dihadapkan pada pekerjaan rumah besar dalam hal disiplin pemain.

Tanpa pembenahan serius di level pelatih, manajemen, dan mentalitas pemain, Green Force akan terus kesulitan meraih hasil maksimal.

Persebaya perlu segera berbenah — bukan hanya dalam strategi di lapangan, tetapi juga dalam membangun karakter dan kedewasaan setiap pemain agar insiden kartu merah tak lagi menjadi langganan.(rak)

 

Editor : Rahmat Adhy Kurniawan
#eduardo perez #Dispsial #Persebaya Surabaya #kartu merah #Dinas Psikologi Angkatan Laut #Francisco Rivera