RADAR SURABAYA – Siapa sangka, daun agel yang dulu hanya dianggap limbah kini menjelma menjadi produk fashion bernilai tinggi dan menembus pasar internasional. Inovasi luar biasa ini lahir dari tangan-tangan terampil warga Dusun Sambas, Desa Kelbung, Kecamatan Sepulu, Kabupaten Bangkalan, Madura, yang tergabung dalam Kelompok UMKM Daun Agel.
Kelompok yang terdiri dari 14 anggota ini telah sukses mengubah potensi lokal menjadi kekuatan ekonomi baru. Sepanjang tahun 2023, mereka berhasil membukukan omzet hingga Rp 23,7 juta, sekaligus membangun kemitraan strategis dengan CV Daun Agel sebagai mitra pemasaran utama.
“Awalnya daun agel ini adalah limbah, banyak tumbuh tapi tidak dimanfaatkan apa-apa, hanya dibakar,” tutur Mohammad Riswandi Himawan, marketing kelompok ini.
Kini, di tangan mereka, daun agel diolah melalui proses panjang dan penuh ketelatenan. Mulai dari ekstraksi serat daun, pemurnian, hingga pemintalan tradisional. Setelah itu, serat dikeringkan dan dibentuk menjadi tali panjang yang kemudian dijadikan tas dan aksesori fashion.
Satu tas memerlukan satu gulung tali sepanjang 20 meter, yang dihasilkan dari satu pohon agel. Proses ini tak hanya efisien, tapi juga ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Transformasi ini tak lepas dari pendampingan Bank Indonesia (BI) Perwakilan Jawa Timur yang memberikan berbagai bantuan peralatan, seperti mesin bordir manual, mesin potong kulit, hingga mesin jahit khusus. Bantuan tersebut mempercepat proses produksi tanpa menghilangkan sentuhan tradisional khas Madura.
Melalui program pemberdayaan BI, kelompok ini kini telah memperluas pasar hingga ke luar negeri. Produk tas daun agel mereka telah diekspor ke Singapura dan Prancis, membuktikan bahwa kreativitas lokal mampu bersaing di pasar global.
Lebih dari itu, kelompok ini juga memberdayakan 50 perempuan dari dua desa sekitar. Mereka tidak hanya memperoleh penghasilan tambahan, tetapi juga keterampilan baru yang memperkuat ekonomi keluarga.
Keberhasilan UMKM Daun Agel menjadi bukti nyata bahwa ekonomi dan ekologi dapat berjalan beriringan. Melalui pendekatan empat pilar yakni literasi keuangan keluarga, literasi usaha, pengembangan usaha, dan penguatan kelembagaan, BI mampu menghadirkan pendampingan yang berdampak nyata.
Kini, daun agel bukan lagi limbah yang dibakar. Ia telah menjelma menjadi simbol inovasi, ketekunan, dan kemandirian ekonomi masyarakat Madura. (mus/vga)
Editor : Vega Dwi Arista