Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Batikkuhibiniu, Pameran Lukisan Batik Artkrobatik di Balai Pemuda Surabaya, Ajak Cinta Lingkungan Lewat Warna dan Kain

Andy Satria • Senin, 3 November 2025 | 23:14 WIB
BATIK LUKIS: Meri Avenina menunjukkan karya batik lukisnya yang turut dipamerkan dalam pameran di Galeri DKS, Komplek Balai Pemuda Surabaya, Senin (3/11).
BATIK LUKIS: Meri Avenina menunjukkan karya batik lukisnya yang turut dipamerkan dalam pameran di Galeri DKS, Komplek Balai Pemuda Surabaya, Senin (3/11).

RADAR SURABAYA - Warna-warna cerah dan guratan canting memenuhi ruang Galeri Dewan Kesenian Surabaya (DKS) di Kompleks Balai Pemuda.

Di tempat inilah komunitas Artkrobatik menggelar pameran lukisan batik tahunan yang kali ini mengusung tema lingkungan bertajuk “Batikkuhibiniu”, yang berlangsung hingga 5 November 2025 mendatang.

Menurut Miki, selaku ketua pameran lukis batik, kegiatan ini diselenggarakan untuk memperingati Hari Batik Nasional sekaligus mengajak masyarakat lebih peduli terhadap isu-isu lingkungan melalui karya seni.

“Tema Batikkuhibiniu kami ambil dari kata hibiniu yang berarti pelangi. Pelangi melambangkan keseimbangan alam, dan kami ingin mengingatkan bahwa keseimbangan itu kini mulai terganggu oleh banyaknya konflik lingkungan,” ujarnya, Senin (3/11).

Lewat pameran ini, para seniman mencoba menyuarakan kepedulian mereka terhadap berbagai persoalan lingkungan yang terjadi di Indonesia.

Salah satunya terkait pembangunan infrastruktur yang sering kali tidak memperhatikan dampaknya terhadap warga sekitar.

Miki mencontohkan kasus di PLTU Celukan Bawang, Bali, yang berdampak pada petani bunga setempat.

“Bunga yang seharusnya bisa dipanen setiap hari, kini tidak lagi. Banyak petani terpaksa mendatangkan bunga dari luar daerah karena hasil panennya menurun,” tuturnya.

Bagi Miki, seni batik bukan sekadar warisan budaya, melainkan juga media refleksi sosial.

“Melalui warna dan motif, kami ingin mengajak masyarakat melihat kembali hubungan antara manusia dan alam,” tambahnya.

Pameran ini diikuti oleh berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa, dosen, hingga perajin batik non-akademisi.

Tercatat 30 karya ditampilkan oleh beberapa komunitas batik dari Surabaya Raya hingga Bali.

Menariknya, tidak ada proses kurasi ketat maupun batasan media dalam pameran ini.

Para peserta bebas berkreasi dengan berbagai bahan seperti kain dan kayu, serta menggunakan beragam teknik mulai dari canting penuh, kuas, hingga mix media.

“Setiap karya menampilkan gaya dan karakter masing-masing pembatik. Inilah yang membuat pameran ini terasa hidup dan dinamis,” kata Miki.

Pameran Batikkuhibiniu tidak hanya menjadi ajang pamer karya, tapi juga wadah silaturahmi antarperajin batik serta ruang edukasi bagi masyarakat umum.

Melalui kegiatan ini, Artkrobatik berharap batik tidak hanya dipandang sebagai busana tradisional, tetapi juga sebagai karya seni kontemporer yang sarat pesan lingkungan.

“Batik adalah bahasa visual kita. Dengan karya ini, kami ingin menunjukkan bahwa batik bisa berbicara tentang banyak hal — termasuk bumi yang sedang kita jaga bersama,” tutup Miki.

Salah satu peserta, Meri Avenina dari komunitas Batik Gondorukem, Bali, turut menampilkan lima karya dengan teknik dan media yang berbeda.

Ia menggunakan teknik remasol, canting, serta mix media yang dikerjakan selama tiga minggu.

“Saya memakai banyak warna agar sesuai dengan tema pelangi. Setiap warna punya makna tersendiri tentang keseimbangan dan harapan bagi alam,” ujar Meri. (sam/opi)

Editor : Nofilawati Anisa
#lukisan #Lingkungan #dks #Batik #balai pemuda #pameran #galeri #kain