Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Jejak Terakhir Es Abadi di Puncak Jayawijaya, Ilmuwan Prediksi Lenyap pada 2026

Muhammad Firman Syah • Selasa, 21 Oktober 2025 | 19:15 WIB
Puncak Pegunungan Jayawijaya di Papua yang diselimuti kabut tipis, menyisakan sedikit lapisan es abadi yang kini kian menipis akibat perubahan iklim.
Puncak Pegunungan Jayawijaya di Papua yang diselimuti kabut tipis, menyisakan sedikit lapisan es abadi yang kini kian menipis akibat perubahan iklim.

Radar Surabaya — Kabut tipis menyelimuti puncak Gunung Jaya di Pegunungan Sudirman. Lapisan es yang tersisa masih memantulkan cahaya mentari pagi, menjadi saksi bisu perjuangan terakhir gletser tropis Indonesia. Di ketinggian 4.884 meter di atas permukaan laut, sisa es abadi itu terus menipis akibat laju pemanasan global.

Bagi masyarakat Suku Moni, gunung bersalju yang mereka sebut Somatua adalah simbol cahaya kehidupan. Kini, cahaya itu perlahan meredup. Para ilmuwan memperkirakan, es abadi Papua akan benar-benar hilang pada 2026.

Catatan mengenai salju di Papua pertama kali muncul pada 1623 ketika pelaut Belanda, Jan Carstenszoon, mengabarkan bahwa ia melihat puncak gunung tinggi diselimuti salju di wilayah tropis. Pernyataan itu sempat diragukan hingga ekspedisi H.A. Lorentz (1907–1913) membuktikan keberadaan gletser di Puncak Wilhelmina, yang kini dikenal sebagai Puncak Jayawijaya atau Carstensz Pyramid.

Sejak abad ke-20, peneliti geografi mencatat setidaknya tujuh puncak di Pegunungan Sudirman memiliki lapisan es, termasuk Carstensz, Meren, dan Northwall Firn. Namun, sejak tahun 2000-an, penelitian dari BMKG, NASA, dan Nature Climate Change menunjukkan laju pencairan yang semakin cepat.

Gletser Jayawijaya terbentuk dari akumulasi presipitasi salju selama ribuan tahun, membentuk es padat berusia ribuan tahun. Suhu udara di kawasan ini bisa mencapai -19°C. Namun, peningkatan suhu global dan fenomena El Niño mempercepat pencairan es.
Data BMKG mencatat penyusutan luas es Jayawijaya tahub 1850, sekitar 19 km², tahun 1972, tinggal 7,3 km², 2018 tersisa 0,5 km² dan 2021, hanya 0,27 km².

Ketebalan gletser juga menurun dari 32 meter pada 2010 menjadi 9,1 meter pada 2021. Hilangnya efek albedo akibat paparan batuan gelap mempercepat proses pemanasan di permukaan.

Zona alpin Papua merupakan habitat bagi sejumlah spesies endemik yang bergantung pada suhu rendah, seperti dingo Papua (anjing bernyanyi), kanguru pohon Mbaiso, burung isap madu elok (Macgregoria pulchra), puyuh salju Jayawijaya (Anurophasis monorthonyx), dan crested berrypecker.

Flora khas seperti rumput alpin, pakis purba Gigantea, dan Phyllocladus sp. juga mulai bergeser ke ketinggian lebih tinggi akibat perubahan suhu. Jika lapisan es benar-benar hilang, banyak spesies tersebut akan kehilangan habitat alami mereka.

Bagi masyarakat adat Moni, Puncak Jayawijaya bukan sekadar bentang alam, melainkan pusat spiritual. Es di puncak dianggap sebagai simbol keseimbangan antara manusia dan alam.

Hilangnya salju di puncak gunung berarti padamnya cahaya spiritual yang diwariskan nenek moyang mereka. Dalam kepercayaan setempat, gletser juga diyakini sebagai sumber air suci dan tempat bersemayamnya roh penjaga gunung.

Sejak Revolusi Industri, peningkatan emisi karbon dioksida telah mempercepat pencairan gletser di seluruh dunia. Es di Jayawijaya kini menjadi laboratorium alami terakhir di wilayah tropis yang menyimpan catatan sejarah perubahan iklim global.

Kajian BMKG dan BRIN memperkirakan es abadi Jayawijaya akan hilang sepenuhnya pada 2025–2026. Jika itu terjadi, dunia akan kehilangan salah satu indikator paling penting untuk mempelajari dinamika atmosfer tropis.

BMKG dan BRIN bersama pengelola Taman Nasional Lorentz terus memantau kondisi gletser dengan memasang sensor suhu dan pipa pengukur ketebalan es. Selain itu, rehabilitasi ekosistem seluas 300 hektare dilakukan dengan menanam tumbuhan endemik pegunungan.

Pendekatan berbasis kearifan lokal juga digalakkan dengan melibatkan masyarakat adat dalam menjaga kawasan dari aktivitas tambang liar dan perusakan vegetasi.

Lapisan es Jayawijaya menyimpan partikel debu vulkanik, gas rumah kaca, hingga tritium dari uji coba nuklir 1960-an. Bagi ilmuwan, data ini merupakan “arsip alam” penting yang merekam evolusi atmosfer bumi di wilayah tropis.

Namun bagi masyarakat Papua, hilangnya es bukan sekadar perubahan iklim, melainkan hilangnya identitas dan keseimbangan spiritual.

Harapan kini bertumpu pada dokumentasi dan penelitian berkelanjutan agar cahaya kehidupan dari Puncak Jayawijaya tidak sepenuhnya padam, tetapi tetap menjadi pengingat penting tentang rapuhnya keseimbangan bumi. (wid/fir)

Editor : M Firman Syah
#lapisan es #pemanasan global #puncak jayawijaya #pegunungan #perubahan iklim