RADAR SURABAYA - Tragedi menimpa dua pelajar SMA Negeri 4 Tegal, Jawa Tengah, yang tewas tenggelam setelah nekat melompat dari Jembatan Langon ke Sungai Gung pada Kamis (16/10).
Aksi tersebut dilakukan dalam rangka membuat konten video yang kemudian berujung petaka. Kedua korban diketahui bernama Septian Wahyu Ramadhani, 16, warga Kelurahan Tegalsari, dan Nata Qolbi Hidayat, 16, warga Kelurahan Panggung, Kota Tegal.
Kapolsek Tegal Timur Kompol Suratman menjelaskan bahwa tidak ditemukan unsur pidana dalam insiden ini.
Kedua korban tenggelam saat berusaha membuat video dengan melompat dari jembatan, disaksikan oleh tiga teman mereka yang berada di tepi sungai sambil merekam.
“Temannya ada tiga orang. Sudah kita mintai keterangan semua di Polsek dengan didampingi guru dan orangtua,” ujar Suratman, Sabtu (18/10).
Keluarga kedua korban telah menerima kejadian ini sebagai musibah dan menyatakan tidak akan menuntut siapa pun secara hukum.
“Kedua orangtua korban sudah membuat surat pernyataan bahwa menerima dengan ikhlas sebagai suatu musibah,” tambahnya.
Dalam video berdurasi 44 detik yang viral di media sosial, kedua pelajar tampak melompat dari jembatan sambil berpegangan tangan.
Salah satu korban sempat melambaikan tangan dan berteriak meminta tolong, namun tidak ada yang bisa berenang untuk menolong.
Warga sekitar, Widodo, 41, menyayangkan aksi nekat tersebut. “Ngeri. Harusnya kalau nggak bisa renang jangan nekat,” ujarnya.
Tim SAR gabungan langsung melakukan pencarian pada malam hari, namun hasilnya nihil. Pencarian dilanjutkan keesokan harinya dan berhasil menemukan Septian pada pukul 05.10 WIB dalam kondisi meninggal dunia.
Nata ditemukan beberapa jam kemudian di lokasi yang tak jauh dari titik awal mereka melompat.
Plt Kasi Humas Polres Tegal Kota AKP Sakmadi mengungkapkan bahwa aksi tersebut sudah direncanakan dan sempat dibagikan melalui grup WhatsApp.
“Meski sempat diperingatkan warga agar tidak melompat ke sungai, keduanya tetap nekat melakukan aksi tersebut,” jelasnya.
Kematian tragis dua pelajar SMA Negeri 4 Tegal menjadi peringatan serius akan bahaya aksi ekstrem demi konten media sosial.
Meski tidak ditemukan unsur pidana, pihak kepolisian menegaskan bahwa aksi tersebut sudah direncanakan dan dilakukan meski telah diperingatkan warga.
Kasus ini menyoroti pentingnya edukasi digital dan keselamatan diri bagi remaja, terutama dalam menghadapi tekanan sosial untuk membuat konten viral.
Diperlukan peran aktif orangtua, sekolah, dan masyarakat untuk membangun kesadaran akan risiko nyata di balik tren daring yang tampak sepele namun bisa berujung fatal. (trn/dtk/nur)
Editor : Nurista Purnamasari