Manggarai Barat – Warga di Jalan Cowang Dereng, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, dikejutkan dengan kemunculan bunga bangkai di pekarangan rumah warga pada Kamis (16/10) pagi. Bunga beraroma menyengat itu sempat disangka sebagai Rafflesia arnoldii, namun setelah diteliti diketahui merupakan jenis Amorphophallus paeoniifolius, atau dikenal sebagai bunga suweg.
Kepala Kantor Resor Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Labuan Bajo, Sahudin, memastikan bahwa bunga tersebut bukan Rafflesia.
“Itu salah satu jenis bunga bangkai, tapi bukan Rafflesia arnoldii. Jenisnya Amorphophallus paeoniifolius, dan tidak termasuk tumbuhan yang dilindungi oleh pemerintah,” jelasnya.
Salah satu warga, Diana Kristiani, mengisahkan bahwa dirinya pertama kali melihat bunga itu saat hendak ke pasar.
“Tadi pagi pas mau ke pasar, sekitar jam tujuh, kami lihat bunga itu. Waktu pertama lihat, bentuknya belum terlalu mekar. Kata kakak di sini, kemarin dia sempat berbau,” ujarnya.
Diana menambahkan, aroma bunga tersebut cukup kuat dan tercium hingga ke rumah-rumah di sekitar lokasi.
“Iya, bau bangkai. Mereka bilang baunya sangat menyengat. Saya sempat posting di media sosial, banyak yang komentar dan mengira itu bunga Rafflesia,” tambahnya.
Secara ilmiah, Amorphophallus paeoniifolius merupakan anggota keluarga talas-talasan (Araceae) yang berkerabat dengan Amorphophallus titanum (bunga bangkai raksasa) dan Amorphophallus muelleri (porang). Tanaman ini tersebar luas di kawasan Asia Tenggara dan dapat ditemukan di hutan-hutan Malesia, Filipina, hingga India tropis.
Suweg memiliki dua fase pertumbuhan tahunan. Pada fase vegetatif, tanaman hanya menampilkan daun bercabang dengan batang lunak tanpa batang sejati karena seluruh bagian utama tumbuh dari umbi di bawah tanah. Ketika cadangan energi dalam umbi mencukupi, tanaman memasuki fase generatif dan mengeluarkan bunga beraroma bangkai yang berfungsi menarik lalat sebagai penyerbuk alami.
Meski terkenal karena baunya yang tajam, suweg memiliki berbagai manfaat. Di sejumlah daerah di Jawa Barat, tanaman ini dimanfaatkan sebagai bahan pangan tambahan sumber karbohidrat, pakan ikan, bahkan untuk keperluan upacara adat.
Berdasarkan Daftar Merah IUCN 2022, Amorphophallus paeoniifolius termasuk kategori Least Concern (LC) atau berisiko rendah terhadap kepunahan. Kemunculannya di lingkungan permukiman warga Labuan Bajo menjadi pengingat akan kekayaan hayati Indonesia yang patut dijaga dan dilestarikan. (ris/fir)
Editor : M Firman Syah