Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Darurat Kesehatan Global, Lonjakan Angka Kematian Generasi Muda Mengejutkan Dunia

Muhammad Firman Syah • Rabu, 15 Oktober 2025 | 20:55 WIB
Angka kematian generasi muda meningkat drastis di berbagai wilayah, jadi alarm dunia.
Angka kematian generasi muda meningkat drastis di berbagai wilayah, jadi alarm dunia.

Surabaya – Studi terbaru memperingatkan krisis kesehatan global akibat meningkatnya angka kematian di kalangan remaja dan orang dewasa muda. Temuan ini dipaparkan dalam Global Burden of Disease (GBD) yang diterbitkan di jurnal The Lancet dan disampaikan pada World Health Summit di Berlin, Jerman, kemarin.

Meskipun angka harapan hidup global telah meningkat menjadi 76,3 tahun bagi perempuan dan 71,5 tahun bagi laki-laki, naik lebih dari 20 tahun sejak 1950, peneliti mencatat lonjakan kematian di kalangan generasi muda di berbagai wilayah. Di Amerika Utara dan sebagian Amerika Latin, peningkatan kematian disebabkan oleh bunuh diri serta penyalahgunaan obat-obatan dan alkohol.

"Peningkatan tajam pada usia remaja dan dewasa muda sangat mencolok dalam data kami," ujar Direktur Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) di Universitas Washington, Dr. Christopher Murray, dikutip The Guardian, Selasa (14/10).

Murray menambahkan, lonjakan kematian sangat terkait dengan meningkatnya kecemasan dan depresi, terutama di kalangan perempuan muda. Banyak faktor diduga memicu kondisi ini, termasuk pengaruh media sosial, pola pengasuhan modern, dan dampak pandemi Covid-19.

Di Afrika Sub-Sahara, angka kematian anak usia 5–14 tahun sejak 1950 lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya, akibat penyakit menular dan cedera tidak disengaja. Sementara perempuan berusia 15–29 tahun mencatat tingkat kematian 61 persen lebih tinggi dibanding estimasi lama, sebagian besar akibat komplikasi kehamilan, persalinan, kecelakaan lalu lintas, dan meningitis.

"Temuan ini harus menjadi alarm bagi pemerintah dan pemimpin sektor kesehatan untuk bertindak cepat dan strategis menghadapi tren yang mengubah kebutuhan kesehatan publik," tegas Murray.

Secara global, dua pertiga beban penyakit kini berasal dari penyakit kronis seperti jantung dan diabetes, sementara gangguan kesehatan mental meningkat pesat. Peneliti menemukan bahwa setengah dari seluruh beban penyakit dapat dicegah melalui pengendalian faktor risiko, termasuk tekanan darah tinggi, polusi udara, merokok dan obesitas.

CEO Amref Health Africa, Dr. Githinji Gitahi, menekankan bahwa 60 persen populasi Afrika berusia di bawah 25 tahun, sehingga kesehatan menjadi investasi paling berharga. Ia menyoroti lemahnya sistem kesehatan yang gagal menjawab kebutuhan anak muda, sementara penyakit seperti malaria, HIV dan TBC masih menelan banyak korban.

"Lonjakan penyakit tidak menular di kalangan anak muda Afrika bukan ancaman masa depan, itu sudah terjadi sekarang," ujar Gitahi.

Ia menekankan perlunya sistem kesehatan yang lebih kuat dan investasi publik yang fokus pada generasi muda.

Prof. Emmanuela Gakidou dari IHME memperingatkan bahwa kemajuan di negara berpendapatan rendah terancam mundur akibat pemangkasan bantuan internasional.

"Negara-negara ini bergantung pada pendanaan global untuk layanan primer, obat-obatan dan vaksin. Tanpa itu, kesenjangan pasti makin melebar," ujarnya. (gab/fir)

Editor : M Firman Syah
#generasi muda #gdb #gangguan kesehata mental #darurat kesehatan global #Angka Kematian