Radar Surabaya – Setiap 10 Oktober, dunia memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia sebagai momen penting untuk menegaskan bahwa tidak ada kesehatan tanpa kesehatan mental. Tahun ini, tema global yang diusung adalah “Access to Services, Mental Health in Catastrophes and Emergencies” atau “Akses ke Layanan, Kesehatan Mental di Tengah Bencana dan Keadaan Darurat.”
Tema tersebut menyoroti pentingnya dukungan psikososial bagi masyarakat yang terdampak bencana alam, konflik bersenjata dan krisis kemanusiaan lainnya. Pemerintah Provinsi Riau pun menegaskan komitmennya untuk memperkuat layanan kesehatan jiwa melalui peningkatan fasilitas serta pengembangan sumber daya manusia di bidang tersebut.
Peringatan tahun ini juga menjadi refleksi atas meningkatnya gangguan psikologis di tengah situasi bencana. Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), satu dari lima orang di wilayah terdampak krisis mengalami masalah kesehatan mental, mulai dari stres berat hingga depresi dan trauma pascakejadian.
WHO menekankan bahwa menjaga kesehatan mental di masa darurat bukan sekadar tindakan empati, melainkan bagian penting dari upaya penyelamatan.
“Menjaga kesehatan mental saat bencana bukan sekadar bentuk empati, melainkan tindakan penyelamatan,” tulis WHO dalam pesan peringatannya tahun ini.
Dukungan psikososial, lanjut WHO, menjadi kunci bagi individu untuk menghadapi tekanan ekstrem, memulihkan keseimbangan emosional, dan menumbuhkan kembali kemampuan membangun kehidupan. Karena itu, WHO menyerukan kolaborasi lintas sektor mulai dari pemerintah, tenaga kesehatan, pendidik, hingga organisasi masyarakat untuk memperluas akses layanan mental terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, pengungsi dan penyintas bencana.
Gubernur Riau, Abdul Wahid, turut memberikan apresiasi kepada tenaga kesehatan jiwa yang terus menunjukkan dedikasi tinggi dalam memberikan pelayanan penuh empati kepada pasien. Ia mengakui bahwa pekerjaan di rumah sakit jiwa bukanlah tugas ringan, karena dibutuhkan kesabaran, ketulusan dan kemampuan mendengarkan dengan hati agar pasien merasa didukung.
“Saya memahami bahwa tugas di rumah sakit jiwa bukan tugas yang mudah, tidak semua orang mampu melakukannya. Tapi Bapak Ibu sekalian telah membuktikan bahwa pelayanan dengan hati dan empati mampu menyembuhkan luka di pikiran,” ujarnya.
Abdul Wahid menilai bahwa kerja keras tenaga medis merupakan wujud nyata kehadiran pemerintah di tengah masyarakat yang membutuhkan. Ia menegaskan komitmen Pemprov Riau untuk terus memperluas akses layanan kesehatan mental yang inklusif, terjangkau, dan merata.
“Dedikasi Bapak Ibu semuanya adalah wujud nyata kehadiran pemerintah di tengah masyarakat yang paling membutuhkan. Atas nama Pemerintah Provinsi Riau, saya mengucapkan terima kasih dan penghormatan yang tulus kepada Bapak Ibu semuanya,” ungkapnya.
Momentum Hari Kesehatan Mental Sedunia 2025 menjadi pengingat bahwa kesehatan mental adalah hak setiap individu. Di tengah ketidakpastian global dan ancaman bencana, layanan psikologis perlu menjadi bagian integral dari sistem kesehatan nasional dan respon kemanusiaan yang berkelanjutan. (ris/fir)
Editor : M Firman Syah