RADAR SURABAYA - Kabar duka datang dari keluarga besar Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno. Istri ketujuh sang Proklamator, Yurike Sanger, meninggal dunia pada Rabu, 17 September 2025 waktu setempat di San Gorgonio Memorial Hospital, California, Amerika Serikat.
Perempuan berdarah Jerman–Manado itu tutup usia pada umur 81 tahun setelah berjuang melawan kanker payudara sejak 2013.
Yurike dikenal sebagai cinta terakhir Bung Karno di masa senja kekuasaannya. Ia dinikahi pada tahun 1964 saat masih berusia 22 tahun, di tengah situasi politik nasional yang penuh gejolak.
Setelah masa pemerintahan Soekarno berakhir, Yurike memilih hidup tenang di luar negeri dan menetap di Amerika Serikat, namun tetap menjaga hubungan dengan keluarga dan tanah air.
Putrinya, Eka Putri, mengungkap bahwa Yurike sempat mengeluh sakit dada dan muntah pada pagi 15 September.
Setelah dibawa ke rumah sakit, dokter menyatakan bahwa kondisi sang ibu sudah kritis. Meski demikian, Yurike tetap menunjukkan semangat hidup dan keyakinan spiritual yang kuat.
“Mama selalu bilang, semua tergantung Tuhan. Bahkan saat dokter menyerah, Mama tidak pernah kehilangan harapan,” ujar Eka.
Wanita kelahiran 22 Mei 1945 ini akhirnya menghembuskan napas terakhir dua hari kemudian.
Jenazahnya tiba di Indonesia pada 5 Oktober dan dimakamkan keesokan harinya di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Tanah Kusir, Jakarta Selatan.
Lokasi pemakaman berada di Blok Pahlawan dan Pejuang Kemerdekaan, area khusus yang diperuntukkan bagi tokoh-tokoh nasional dan keluarga pejuang.
Prosesi pemakaman berlangsung khidmat dan dihadiri keluarga serta kerabat dekat. Petugas pemakaman menyebut bahwa lokasi tersebut dipilih atas permintaan keluarga, sebagai bentuk penghormatan terhadap peran Yurike dalam sejarah pribadi Bung Karno.
Kepergian Yurike Sanger menutup bab penting dalam sejarah pribadi Presiden Soekarno. Ia dikenang sebagai sosok yang lembut, mandiri, dan penuh semangat hidup.
Meski jauh dari sorotan publik, perjuangannya melawan kanker selama 12 tahun menjadi inspirasi bagi banyak orang.
Permintaan terakhir Yurike untuk dimakamkan di Blok Pahlawan TPU Tanah Kusir menunjukkan kecintaannya yang tak pernah pudar terhadap tanah air dan warisan sejarah Indonesia. (nur)
Editor : Nurista Purnamasari