RADAR SURABAYA – Suara sirine ambulans masih terus terdengar di kawasan Pondok Pesantren Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur, Minggu (5/10). Hingga siang hari, tim gabungan Search and Rescue (SAR) masih menemukan korban baru dari reruntuhan bangunan musala empat lantai yang ambruk pada awal pekan lalu.
Berdasarkan data terakhir hingga pukul 12.00 WIB, sebanyak 12 jenazah dan satu potongan tubuh manusia kembali ditemukan dari balik puing. Dengan tambahan itu, jumlah korban meninggal dunia mencapai 37 orang, sementara dua potongan tubuh juga telah dievakuasi.
Deputi 3 BNPB, Budi, menjelaskan data tersebut masih bersifat sementara karena dihimpun berdasarkan daftar absensi santri. “Angka pasti baru akan diketahui setelah seluruh beton dan puing terangkat hingga ke lantai dasar,” ujarnya.
Menurut laporan tim lapangan, sebagian besar jenazah ditemukan di lantai satu sisi utara. Proses pembersihan puing telah mencapai lebih dari 60 persen. Namun tim masih menghadapi kendala karena salah satu struktur beton ternyata menempel pada bangunan di sebelah musala.
Untuk memastikan keamanan proses evakuasi, BNPB melibatkan tim ahli dari Institut Teknologi Surabaya (ITS) guna melakukan investigasi forensik struktur bangunan dan memberikan rekomendasi teknis.
Memasuki hari ketujuh, tim gabungan dari BNPB, Basarnas, TNI, Polri, dan relawan tetap bekerja tanpa henti selama 24 jam secara bergantian. Beberapa personel mulai mengalami kelelahan dan gangguan kulit akibat paparan debu dan kotoran. Dinas Kesehatan pun menambah layanan medis dengan menyediakan vitamin, perawatan kulit, dan pemeriksaan rutin di lokasi.
BNPB juga mewaspadai potensi gangguan kesehatan akibat pembusukan jenazah yang sudah berlangsung sepekan. Meski jenazah korban bencana tidak menularkan penyakit menular secara langsung, cairan pembusukan berisiko mencemari air bersih di sekitar lokasi. Karena itu, penyemprotan disinfektan dan pengelolaan lingkungan akan ditingkatkan untuk mencegah munculnya penyakit berbasis lingkungan seperti diare atau tifoid.
Selain itu, layanan psikososial dan kesehatan bagi keluarga korban dibuka di posko kesehatan terdekat. Layanan ini mencakup konseling, pijat refleksi, hingga bekam tradisional bagi wali santri yang mengalami kelelahan dan stres. (*)
Editor : Lambertus Hurek