Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Dugaan Kekerasan Warnai Orientasi Komunitas Alam di Bitung, Remaja Alami Luka dan Trauma

Nurista Purnamasari • Jumat, 3 Oktober 2025 | 01:57 WIB
Tangkapan layar video yang memperlihatkan kekerasan di sela kegiatan orientasi komunitas pencinta alam di Bitung, Sulawesi Utara.
Tangkapan layar video yang memperlihatkan kekerasan di sela kegiatan orientasi komunitas pencinta alam di Bitung, Sulawesi Utara.

RADAR SURABAYA - Seorang pelajar SMA berinisial AA, 16, diduga mengalami kekerasan fisik saat mengikuti kegiatan orientasi komunitas pencinta alam di Gunung Dua Sudara, Bitung, Sulawesi Utara.

Kegiatan yang berlangsung pada 26–28 September 2025 itu diselenggarakan oleh Himpunan Penjelajah Alam Terbuka Spizaetus (Himpasus) Bitung sebagai bagian dari penerimaan anggota baru.

Menurut kuasa hukum keluarga korban, Bili Ladi, AA menjadi salah satu dari enam calon anggota yang mengalami kekerasan fisik saat prosesi pengukuhan pada Minggu (28/9).

AA diduga ditampar secara bergiliran oleh sekitar 10 orang senior komunitas, bahkan ada yang ditendang. Peristiwa itu terjadi saat mata korban ditutup, sehingga hanya dua pelaku yang terekam dalam dokumentasi.

“Menurut korban, lebih dari 10 orang memukul secara bergantian. Karena mata ditutup, mereka tidak bisa melihat siapa saja, tapi mengenali nama-nama alam yang dipanggil saat giliran memukul,” ujar Bili dikutip dari Detikcom, Kamis (2/10).

AA mengikuti kegiatan tersebut dengan izin resmi dari orang tuanya, yang menandatangani surat persetujuan berdasarkan narasi kegiatan yang disebutkan bersifat edukatif dan lingkungan.

Sang ibu mendukung penuh karena AA memiliki minat mendaki sejak SMP dan bercita-cita masuk TNI setelah lulus SMA.

Selama dua hari pertama, kegiatan berjalan normal dengan pemberian materi komunitas. Namun, pada hari ketiga saat penggantian slayer sebagai simbol pengukuhan anggota, kekerasan fisik diduga terjadi.

AA pulang ke rumah dengan wajah memar dan tubuh nyeri, namun sempat menyembunyikan kondisinya dengan alasan digigit lebah.

“Ibunya curiga karena saat membangunkan anaknya, tubuhnya terasa nyeri. Tidak ditemukan bekas gigitan lebah, akhirnya AA mengaku mengalami kekerasan,” jelas Bili.

Kasus dugaan kekerasan terhadap remaja AA dalam kegiatan komunitas pencinta alam di Bitung memicu keprihatinan publik terhadap praktik orientasi yang tidak sesuai prinsip keselamatan dan pendidikan. Kuasa hukum keluarga meminta agar pihak berwenang segera melakukan investigasi menyeluruh terhadap pelaku dan penyelenggara kegiatan.

Peristiwa ini menjadi pengingat penting bahwa kegiatan alam terbuka harus menjunjung tinggi etika, keamanan, dan perlindungan terhadap peserta, terutama anak di bawah umur. (dtk/nur)

Editor : Nurista Purnamasari
#pencinta alam #sulawesi utara #bitung #komunitas #kekerasan #Gunung Dua Sudara