Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Ahli Pangan Unej Beberkan Penyebab Keracunan Program Makan Bergizi Gratis

Rahmat Adhy Kurniawan • Senin, 29 September 2025 | 01:34 WIB
Dr Nurhayati, S.TP, M.Si.
Dr Nurhayati, S.TP, M.Si.

RADAR SURABAYA – Kasus keracunan makanan yang menimpa sejumlah pelajar dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di beberapa daerah mendapat sorotan dari akademisi.

Ahli pangan Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jember (Unej), Dr. Nurhayati, S.TP, M.Si mengungkapkan sejumlah kemungkinan penyebab terjadinya keracunan makanan siap saji tersebut.

Penyebab Keracunan Makanan Siap Saji

Menurut Dr. Nurhayati, keracunan makanan bisa dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari paparan bahan kimia hingga kontaminasi mikroba.

“Pangan segar yang tidak dicuci dengan benar berpotensi terkontaminasi bahan kimia maupun mikroba.

Proses memasak yang kurang panas juga memungkinkan mikroba patogen tumbuh,” ujarnya di Jember, Jawa Timur, Minggu (28/9).

Ia menambahkan, bahan pangan yang rusak akibat mikroba dapat menimbulkan bau busuk dan berbahaya bila menghasilkan toksin seperti enterotoksin atau botulin.

Gas beracun seperti hidrogen sulfida (H₂S) juga dapat menyebabkan gejala serius mulai dari pusing, mual, hingga kematian.

Beberapa mikroba patogen yang umum ditemukan pada makanan tercemar antara lain Salmonella spp., E. coli, Staphylococcus aureus, Bacillus cereus, dan Listeria monocytogenes.

Titik Kritis yang Harus Diwaspadai

Ketua Kelompok Riset Pangan ASUH Unej itu menegaskan, ada beberapa titik kritis yang sering luput dari perhatian dan bisa menjadi sumber keracunan:

Kebersihan bahan dan peralatan: peralatan yang tidak dicuci bersih berisiko menjadi media bakteri penyebab diare dan tipus.

Proses memasak: makanan yang tidak matang sempurna, terutama daging dan ikan, berpotensi menyisakan bakteri patogen.

Penyimpanan makanan: suhu ruang 5–60 derajat Celcius termasuk zona bahaya karena mikroba cepat berkembang.

Penyajian terbuka: makanan yang dibiarkan terlalu lama dapat terkontaminasi debu, serangga, hingga sentuhan tangan.

“Kontaminasi silang bisa menyebabkan pertumbuhan mikroba lebih dari 10 ribu sel hanya dalam lima jam, padahal cukup 3 ribu sel patogen saja sudah bisa memicu keracunan,” jelasnya.

Harapan untuk Program MBG

Nurhayati yang juga Pengurus Pusat Perhimpunan Ahli Teknologi Pangan Indonesia (PATPI) berharap semua pihak yang terlibat dalam Program MBG lebih memperhatikan aspek higienitas.

“Kebersihan bahan, proses memasak, penyimpanan, dan penyajian adalah titik kritis yang wajib dijaga. Kelalaian pada satu tahap saja dapat memicu keracunan dan penyakit bawaan pangan seperti diare dan tipus,” tegasnya.

Kasus Keracunan di Jember

Sebelumnya, belasan siswa Sekolah Dasar Negeri (SDN) 05 Sidomekar, Kabupaten Jember, diduga mengalami keracunan usai menyantap menu Program Makan Bergizi Gratis pada Jumat (26/9). Kasus ini menambah daftar panjang insiden serupa di sejumlah daerah.

Editor : Rahmat Adhy Kurniawan
#Program makan bergizi gratis (MBG) #unej