Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Ini Tanggapan BGN Soal Kritikan Menu Burger dan Spageti di Program MBG

Nurista Purnamasari • Sabtu, 27 September 2025 | 19:57 WIB
Kepala Badan Gizi Nasional Dadan Hindayana.
Kepala Badan Gizi Nasional Dadan Hindayana.

RADAR SURABAYA - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan publik setelah muncul kritik dari ahli gizi dr Tan Shot Yen terkait menu yang menyajikan olahan burger dan spageti.

Menurut Tan, menu tersebut tidak mencerminkan prinsip gizi berbasis lokal dan justru memperkenalkan anak-anak pada makanan berbahan dasar gandum yang tidak tumbuh di Indonesia.

Menanggapi hal ini, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana menegaskan bahwa menu tersebut hanya bersifat selingan dan tetap memperhatikan komposisi gizi anak.

“SPPG berinisiatif membuat menu selingan berbasis permintaan siswa. Menu selingan itu hanya sesekali,” ujar Dadan kepada wartawan, Sabtu (27/9).

Menu Utama Tetap Fresh Food Lokal

Dadan menjelaskan bahwa BGN telah menetapkan standar komposisi gizi yang disusun oleh ahli gizi di setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Menu MBG dirancang berdasarkan potensi sumber daya lokal dan kesukaan masyarakat setempat, dengan prinsip utama berupa makanan segar (fresh food).

“Basis BGN adalah fresh food dengan mengutamakan potensi sumber daya lokal,” tegas Dadan.

Ia juga memastikan bahwa meskipun menu seperti burger dan spageti muncul sesekali, komposisinya tetap memperhatikan kebutuhan gizi anak.

Menu tersebut tidak menggantikan makanan pokok, melainkan sebagai variasi yang disesuaikan dengan permintaan siswa.

Dalam rapat bersama Komisi IX DPR, dr Tan Shot Yen menyampaikan keprihatinannya terhadap menu MBG yang menyajikan burger, spageti, dan mi instan.

Ia mempertanyakan mengapa anak-anak Indonesia dikenalkan dengan makanan berbasis gandum, yang bukan tanaman asli Indonesia.

“Tepung terigu tidak pernah tumbuh di bumi Indonesia. Nggak ada anak muda yang tahu bahwa gandum tidak tumbuh di sini,” ujar Tan.

Ia juga menyoroti isi burger yang dinilai tidak mencerminkan keberagaman pangan lokal, bahkan menyebut adanya “kastanisasi” dalam penyajian makanan agar terlihat mewah di pusat kota.

Data dan Konteks Program MBG

Program MBG merupakan bagian dari kebijakan nasional untuk meningkatkan status gizi anak sekolah, terutama di daerah dengan prevalensi stunting tinggi.

Kontroversi menu burger dan spageti dalam program MBG mencerminkan pentingnya pengawasan dan komunikasi publik dalam pelaksanaan program gizi nasional.

BGN menegaskan bahwa menu utama tetap berbasis makanan segar dan lokal, sementara variasi seperti burger hanya bersifat selingan.

Kritik dari dr Tan Shot Yen menjadi pengingat bahwa edukasi pangan lokal dan transparansi komposisi gizi perlu diperkuat agar program MBG benar-benar berdampak positif bagi generasi muda Indonesia. (dtk/nur)

Editor : Nurista Purnamasari
#Mbg #Menu MBG #BGN #Dadan Hindayana #kritik menu MBG #tan shot yen #Makan Bergizi Gratis