Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Harga Nikel Naik Usai Pemerintah Sita Lahan Tambang Tsingshan, Pasar Global Waspada

Muhammad Firman Syah • Jumat, 12 September 2025 | 23:47 WIB
Harga nikel melonjak setelah pemerintah Indonesia menyita lahan tambang milik PT Weda Bay Nickel yang terafiliasi dengan Tsingshan Holding Group.
Harga nikel melonjak setelah pemerintah Indonesia menyita lahan tambang milik PT Weda Bay Nickel yang terafiliasi dengan Tsingshan Holding Group.

Radar Surabaya – Harga nikel global mengalami lonjakan usai pemerintah Indonesia menyita sebagian lahan tambang milik PT Weda Bay Nickel, perusahaan yang sebagian sahamnya dimiliki Tsingshan Holding Group asal Tiongkok. Harga nikel berjangka di London Metal Exchange (LME) tercatat naik sebesar 1 persen menjadi 15.305 dolar AS per ton pada perdagangan Jumat (12/9) pagi waktu Singapura.

Kenaikan harga ini dipicu kekhawatiran pasar atas potensi gangguan pasokan dari Indonesia, negara yang selama ini menyumbang lebih dari separuh produksi nikel dunia. Langkah tegas pemerintah disinyalir menjadi indikasi semakin ketatnya pengawasan terhadap praktik tambang ilegal di Tanah Air.

Sehari sebelumnya, Satuan Tugas Pemerintah mengambil alih sekitar 148 hektare lahan tambang di Maluku Utara, dengan alasan resmi terkait dugaan pelanggaran izin. Penertiban ini menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat tata kelola pertambangan nasional.

PT Weda Bay Nickel selama ini dikenal sebagai salah satu produsen nikel terbesar di dunia, khususnya dalam rantai pasok bahan baku baterai kendaraan listrik. Eramet SA, perusahaan asal Prancis yang juga menjadi pemegang saham, menyatakan bahwa operasi tambang tetap berjalan normal pascapenyitaan lahan.

Namun demikian, pelaku pasar global tetap mewaspadai potensi gangguan lanjutan. Setiap hambatan terhadap produksi nikel Indonesia dapat berdampak signifikan terhadap rantai pasok global, terutama di tengah meningkatnya permintaan nikel untuk transisi energi bersih.

Presiden RI Prabowo Subianto sebelumnya telah menegaskan komitmen untuk memberantas tambang ilegal, sejalan dengan agenda besar pembangunan industri hilirisasi nasional. Namun di sisi lain, industri pengolahan nikel dalam negeri, termasuk smelter, dilaporkan tengah mengalami kesulitan dalam memperoleh pasokan bijih nikel tahun ini. Faktor cuaca ekstrem serta keterbatasan kuota penambangan disebut sebagai penyebab utama.

Situasi ini memperkuat kekhawatiran bahwa kebijakan pengawasan yang lebih ketat, meskipun bertujuan baik, dapat menciptakan gangguan jangka pendek terhadap stabilitas pasokan nikel global. (kvn/mel/fir)

Editor : M Firman Syah
#pemerintah indonesia #Tsingshan #lonjakan #harga nikel #PT Weda Bay Nickel