Surabaya — Fenomena gerhana bulan total kembali menghiasi langit Indonesia pada Minggu (7/9) malam hingga Senin (8/9) dini hari. Peristiwa ini terjadi saat matahari, bumi dan bulan berada dalam satu garis lurus sehingga cahaya matahari terhalang bumi sebelum mencapai permukaan bulan.
Pada fase tertentu, bulan tampak berwarna merah gelap atau jingga, yang dikenal dengan istilah blood moon. Fenomena ini kerap menimbulkan beragam penafsiran di masyarakat, khususnya terkait mitos yang diwariskan sejak zaman kuno.
Salah satu mitos yang hidup di masyarakat Jawa kuno menyebutkan gerhana bulan terjadi karena Batara Kala, sosok raksasa dalam mitologi Hindu-Jawa, sedang “memakan” bulan. Untuk mengusirnya, warga pada masa lalu membunyikan kentongan dan membuat suara bising.
Kepercayaan lain menilai gerhana bulan sebagai pertanda buruk, mulai dari isyarat bencana hingga musibah besar. Di beberapa daerah, fenomena ini juga diyakini berbahaya bagi ibu hamil karena dipercaya dapat memengaruhi kondisi janin, sehingga mereka dianjurkan tetap berada di dalam rumah saat gerhana berlangsung.
Meski tak memiliki dasar ilmiah, mitos-mitos tersebut tetap bertahan hingga kini dan menjadi bagian dari kekayaan budaya Nusantara. Sementara itu, sains menegaskan gerhana hanyalah fenomena astronomi alami yang menegaskan keteraturan semesta. (bil/gab/fir)
Editor : M Firman Syah