RADAR SURABAYA – Fenomena gerhana bulan selalu menarik perhatian. Tapi tahukah Anda bahwa gerhana bulan hanya bisa terjadi saat bulan purnama? Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menjelaskan, hal ini terkait posisi astronomis Bulan, Bumi, dan Matahari.
“Gerhana bulan terjadi ketika Bulan, Bumi, dan Matahari berada dalam satu garis lurus, dengan Bumi di tengah. Posisi ini hanya terjadi saat fase purnama,” ujar Dwikorita.
Secara sederhana, Bumi berada di antara Matahari dan Bulan, sehingga bayangan Bumi menutupi Bulan sebagian atau seluruhnya. Bila Bulan hanya setengah atau sebagian purnama, garis lurus ini tidak terbentuk, dan gerhana tidak terjadi.
Fenomena ini bisa diamati dengan mata telanjang tanpa risiko kerusakan mata. Bahkan saat gerhana total, Bulan tampak merah karena cahaya Matahari yang melewati atmosfer Bumi dibelokkan ke arah Bulan. Fenomena ini sering disebut blood moon.
Meski setiap purnama Bulan terlihat penuh, tidak semua purnama menimbulkan gerhana. Hal ini karena orbit Bulan sedikit miring sekitar 5° terhadap orbit Bumi mengelilingi Matahari, sehingga kadang Bulan melewati di atas atau di bawah bayangan Bumi.
Dwikorita menambahkan, gerhana bulan juga memberikan peluang edukasi astronomi dan sains bagi masyarakat. “Selain menikmati keindahan alam, masyarakat bisa belajar tentang orbit, gravitasi, dan interaksi Matahari–Bumi–Bulan,” katanya.
Fenomena langka ini menjadi momen tepat untuk mengajak keluarga dan anak-anak memperhatikan langit malam. Jadi, siapkan teleskop atau kamera, dan nikmati Bulan merah yang menakjubkan. (*)
Editor : Lambertus Hurek