RADAR SURABAYA – Dunia literasi dan sejarah kehilangan sosok penting. Oei Hiem Hwie atau akrab disapa Pak Wie meninggal dunia dalam usia 85 tahun di Surabaya, Rabu (3/9/2025). Mantan wartawan harian Trompet Masjarakat itu dikenal sebagai pendiri Perpustakaan Medayu Agung, pusat literasi yang menyimpan ribuan koleksi buku langka.
Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga (FIB Unair) Prof Purnawan Basundoro menyebut Pak Wie sosok dengan dedikasi luar biasa.
“Beliau telah memberi kontribusi besar untuk pengembangan ilmu pengetahuan. Perpustakaan Medayu Agung bukan hanya tempat membaca, tapi juga laboratorium sejarah yang mendukung penelitian mahasiswa dan dosen,” ujar Purnawan.
Perpustakaan Medayu Agung di kawasan Gubeng itu memang menjadi magnet bagi peneliti dan pecinta sejarah. Koleksi buku-buku kuno, arsip, dan dokumen berharga yang dirawat Pak Wie telah menjadi sumber rujukan penting, terutama bagi peneliti sejarah Indonesia.
Mahasiswa FIB Unair kerap mendapat kesempatan magang di perpustakaan tersebut untuk mempelajari pengelolaan arsip dan pustaka.
Nama Oei Hiem Hwie juga tercatat dalam sejarah kelam negeri ini. Ia pernah menjadi tahanan politik dan dibuang ke Pulau Buru pada masa Orde Baru karena dianggap dekat dengan Bung Karno. Di sana, ia menjalin persahabatan erat dengan sastrawan besar Pramoedya Ananta Toer.
Pak Wie pula yang berjasa menyelamatkan manuskrip-manuskrip Pram yang kemudian dikenal sebagai Tetralogi Pulau Buru.
Atas jasa dan perannya, Departemen Ilmu Sejarah FIB Unair pernah memberikan penghargaan khusus kepadanya dalam peringatan ulang tahun ke-24. (*)
Editor : Lambertus Hurek