Jakarta - Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menegaskan hilirisasi sektor pertambangan nasional tidak boleh mengabaikan aspek perlindungan lingkungan. Menteri LHK Hanif Faisol menyebut prospek hilirisasi tambang menjanjikan, namun tantangan keberlanjutan tetap harus menjadi perhatian utama.
"Proyek hilirisasi punya prospek jangka panjang, tapi kita juga harus pastikan pelestarian lingkungan tidak diabaikan," ujar Hanif, Senin (1/9).
Hanif mengungkapkan hasil tinjauan langsung ke sejumlah kawasan industri pertambangan menunjukkan adanya upaya pelestarian, meski belum sepenuhnya optimal. Menurutnya, tantangan terbesar justru sering muncul di sektor hulu.
"Keberlanjutan harus terjadi dari hulu hingga hilir. Tapi tantangan terberat justru sering muncul di sektor hulu. Di sinilah pentingnya perbaikan menyeluruh," ungkapnya.
KLHK berkomitmen memperkuat penilaian terhadap keselamatan dan kelestarian lingkungan di seluruh rantai produksi, mulai dari bahan baku, pengolahan, distribusi, hingga pasca penggunaan.
"Assessment lingkungan kami lakukan menyeluruh. Mulai dari raw material, proses produksi, pengangkutan, sampai penggunaan akhir," terang Hanif.
Meski demikian, ia mengakui pengawasan masih terkendala keterbatasan tenaga pengawas lingkungan yang saat ini hanya sekitar 1,1 ribu orang di seluruh Indonesia.
"Kemampuan kita dalam pengawasan memang belum sebanding. Maka, pendekatan dialog dan pembinaan menjadi kunci untuk mengimbangi," tandasnya.
KLHK juga mengajak pelaku usaha tambang lebih terbuka terhadap dialog lingkungan, sehingga orientasi hilirisasi tidak sekadar mengejar keuntungan semata. (nad/ris/fir)
Editor : M Firman Syah