Yogyakarta – Duka menyelimuti Yogyakarta setelah seorang mahasiswa Universitas Amikom Yogyakarta, Rheza Sendy Pratama, 20, meninggal dunia diduga akibat bentrokan dalam aksi demonstrasi di kawasan Ring Road Utara, tepat di sekitar Markas Polda DIY, Sabtu malam hingga Minggu pagi (31/8).
Rheza, mahasiswa Ilmu Komunikasi angkatan 2023, sempat mendapat perawatan di RSUP Dr. Sardjito, namun nyawanya tidak tertolong. Jenazahnya kemudian dimakamkan di Sendangadi, Mlati, Sleman, disaksikan ribuan pelayat dan rekan mahasiswa.
Pihak kampus Amikom Yogyakarta membenarkan identitas korban. Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Achmad Fauzi, menyatakan pihaknya masih menunggu informasi resmi.
"Kami masih check semuanya, baik dari rumah sakit maupun teman-temannya. Namun dari informasi awal yang kami terima, almarhum sempat ikut demonstrasi hari Sabtu-Minggu. Semua masih kami pastikan lagi," ujarnya.
Fauzi menegaskan, "Kalau soal kebenaran yang bersangkutan itu mahasiswa kami yang meninggal memang benar. Dia mahasiswa angkatan 2023."
Manajer Hukum dan Humas RSUP Dr. Sardjito, Banu Hermawan, juga membenarkan bahwa Rheza sempat dirawat di rumah sakit.
"Pasien (Rheza) itu memang masuk ke (rumah sakit) kami, tapi maaf kami tidak tahu apakah karena bentrok (demonstrasi) atau tidak," katanya.
Versi berbeda disampaikan BEM Amikom Yogyakarta melalui media sosial. Mereka menyebut Rheza terjatuh setelah motornya mati saat berusaha berbalik arah, lalu terkena gas air mata. Rekannya berhasil melarikan diri, namun Rheza justru tidak terselamatkan.
Di sisi lain, video bentrokan yang beredar menunjukkan dua demonstran mengendarai motor trail mendekati aparat sebelum berbalik arah dan dikejar petugas. Belum ada kepastian apakah rekaman itu berkaitan langsung dengan peristiwa yang menimpa Rheza.
Polda DIY hingga kini belum memberikan keterangan resmi terkait kematian mahasiswa tersebut. Kabid Humas Polda DIY, Kombes Ihsan, hanya menjelaskan adanya penyerangan ke Markas Polda DIY oleh sekitar 50 orang tak dikenal. Aksi itu memicu bentrokan lebih luas hingga melibatkan ratusan orang, yang baru dapat dibubarkan aparat gabungan TNI-Polri pada Minggu pagi.
Polisi menangkap puluhan orang, termasuk pelajar SMP dan SMA, serta menyita senjata tajam dan bom molotov. Enam orang dilaporkan luka-luka, terdiri atas lima massa dan seorang aparat.
"Penyerangan yang dilakukan kelompok perusuh ini melibatkan anak-anak. Kami mengajak orang tua dan pihak sekolah untuk melakukan pengawasan agar anak-anak tidak mudah terpengaruh," ujar Ihsan.
Hingga kini, penyebab pasti kematian Rheza masih menunggu kejelasan resmi dari kepolisian dan pihak rumah sakit. Bagi kalangan mahasiswa, wafatnya Rheza menambah daftar korban jiwa dalam aksi demonstrasi yang berujung ricuh di Yogyakarta. (dwi/gab/fir)
Editor : M Firman Syah